> >

Hamas Kecam Rencana Israel Batasi Ibadah di Masjid Al-Aqsa saat Ramadan

Kompas dunia | 26 Februari 2025, 15:23 WIB
Kubah Shakrah yang ada di kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem. Hamas murka atas keputusan pemerintah Israel membiayai tur pemukim ilegal ke Masjid Al-Aqsa, dianggap eskalasi berbahaya yang dapat memicu perang agama. (Sumber: Anadolu)

YERUSALEM, KOMPAS.TV — Hamas mengecam rencana Israel yang membatasi akses umat Muslim ke Masjid Al-Aqsa selama bulan Ramadan. 

Dalam pernyataan di Telegram, Hamas menyerukan warga Palestina di Tepi Barat, Yerusalem Timur, serta warga Arab Israel untuk datang dalam jumlah besar ke kompleks Al-Aqsa dan menolak upaya Israel mengendalikan situs suci tersebut.

Langkah ini menyusul laporan media Israel yang menyebut aparat keamanan Israel merekomendasikan pembatasan jumlah warga Palestina dari Tepi Barat yang dapat memasuki kompleks Al-Aqsa. 

Baca Juga: Hamas Tuduh Netanyahu Sabotase Gencatan Senjata, Disebut Siapkan Atmosfer untuk Kembali Perang

Berdasarkan laporan tersebut, dikutip dari Times of Israel, hanya 10.000 warga Palestina yang diizinkan mengikuti salat Jumat, dengan syarat mengajukan permohonan terlebih dahulu. 

Selain itu, mantan tahanan yang dibebaskan dalam perjanjian gencatan senjata tidak akan diperbolehkan masuk.

Masjid Al-Aqsa selama ini menjadi salah satu titik ketegangan dalam konflik Israel-Palestina.

Tahun lalu, pada Jumat terakhir Ramadan, sekitar 120.000 jamaah menunaikan salat di masjid tersebut di bawah pengamanan ketat. 

Meskipun situasi di Gaza saat itu memanas, untungnya tidak terjadi insiden besar yang memakan korban.

Selain pembatasan jumlah jamaah, aparat keamanan Israel juga mempertimbangkan kebijakan pembatasan berdasarkan usia. 

Laporan menyebut Israel hanya akan mengizinkan anak-anak di bawah 12 tahun, pria berusia di atas 55 tahun, serta wanita berusia di atas 50 tahun untuk memasuki Al-Aqsa. 

Tentara Israel (IDF) menerapkan pembatasan serupa tahun lalu terhadap warga Palestina dari Tepi Barat.

Rekomendasi pembatasan ini muncul setelah serangkaian diskusi antara IDF, Kementerian Pertahanan, Kepolisian Israel, Shin Bet, dan Layanan Penjara Israel. 

Meskipun kebijakan resmi mengenai akses Muslim ke situs suci ini belum diumumkan, pemerintah Israel telah menyiapkan langkah pengamanan tambahan. 

Kan, lembaga penyiaran publik Israel, melaporkan sebanyak 3.000 personel keamanan akan dikerahkan di pos pemeriksaan setiap hari selama Ramadan. 

Baca Juga: Israel dan Hamas Kembali Sepakati Pertukaran Jenazah Sandera dengan Ratusan Tahanan Palestina

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya

Sumber : Times of Israel


TERBARU