GOMA, KOMPAS.TV – Konflik bersenjata yang berkecamuk di Republik Demokratik Kongo (DRC) telah meninggalkan dampak yang menghancurkan bagi warga sipil, terutama di Goma.
Setelah kota ini jatuh ke tangan pemberontak M23 pada 26 Januari, harga pangan melonjak drastis, memperburuk kondisi bagi ratusan ribu orang yang sudah hidup dalam kesulitan.
Organisasi kemanusiaan ActionAid melaporkan, harga bahan makanan pokok seperti tepung, kacang-kacangan, dan minyak naik antara 18 hingga 160 persen dalam sepekan terakhir.
Seorang relawan ActionAid di Goma menyatakan, harga satu ember beras yang sebelumnya $20 kini mencapai $23.
Sementara air minum dalam kemasan naik dua kali lipat menjadi $2 per botol.
Baca Juga: Sebanyak 13 Tentara Penjaga Perdamaian Internasional Tewas dalam Pertempuran di Kongo
“Segalanya menjadi sangat mahal. Saat pertempuran berlangsung, barang yang biasanya seharga $2 bisa melonjak menjadi $6 karena pasokan makanan terhenti,” kata relawan yang berbicara secara anonim demi keamanannya, dikutip dari Al Jazeera.
Banyak warga kini terpaksa mengurangi konsumsi makanan mereka. Mereka yang sebelumnya mampu hidup dengan $5 per hari kini harus bertahan dengan hanya $2.
“Jika dulu kami makan tiga kali sehari, sekarang hanya bisa sekali,” tambahnya.
Setelah merebut Goma, pemberontak M23 terlibat dalam bentrokan sporadis dengan pasukan Kongo.
Hal ini menyebabkan terputusnya listrik, air, dan internet, serta penutupan banyak bisnis.
Meskipun kini sebagian layanan telah dipulihkan, dampak ekonomi dan sosial dari konflik masih terasa luas.
Julienne Anifa, seorang ibu tujuh anak yang berbelanja di Pasar Alanine mengungkapkan kesulitannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sumber : Al Jazeera
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.