YANGON, KOMPAS.TV - Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang wilayah tengah Myanmar, Jumat (28/3/2025), berdasarkan data teranyar hingga Rabu (2/4) kemarin telah menewaskan lebih dari 2.800 orang, melukai sedikitnya 4.600 orang, dan menyebabkan ratusan lainnya masih tertimbun reruntuhan, terutama di sekitar kota Mandalay.
Sebagaimana dilaporkan Antara, data terbaru yang disampaikan pemerintah militer Myanmar, lima hari setelah bencana yang memperparah situasi kemanusiaan di negara yang tengah dilanda konflik bersenjata itu.
Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar dan berdekatan dengan pusat gempa, menjadi wilayah dengan dampak terparah. Upaya pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung di tengah minimnya alat berat dan akses ke lokasi terdampak.
Gencatan Senjata untuk Buka Jalan Bantuan
Pada Selasa (1/4) tiga kelompok bersenjata etnis minoritas yang tergabung dalam Aliansi Tiga Bersaudara mengumumkan gencatan senjata sepihak selama satu bulan untuk mendukung kelancaran operasi kemanusiaan di wilayah terdampak gempa.
Baca Juga: Update Korban Tewas di Thailand, Imbas Gempa di Myanmar
Mereka adalah Tentara Arakan, Tentara Aliansi Demokrasi Nasional Myanmar, dan Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang.
Gencatan senjata serupa telah lebih dulu diumumkan pada Sabtu (29/3) oleh pemerintahan sipil paralel bentukan anggota pendukung Aung San Suu Kyi.
Sementara itu, pihak militer Myanmar belum menyatakan akan menghentikan serangan. Media setempat melaporkan bahwa serangan udara masih berlangsung di wilayah-wilayah yang dikuasai pasukan oposisi.
Pada hari yang sama, junta menyebut lebih dari 1.500 anggota tim penyelamat asing telah dikerahkan untuk membantu operasi penyelamatan.
Bantuan internasional mulai berdatangan, termasuk dari Jepang yang mengirim tim medis ke Yangon dengan membawa alat sanitasi, air bersih, dan pemurni air.
Baca Juga: Update Kondisi Korban Gempa Myanmar: Evakuasi Berlanjut, Warga Terancam Kelaparan
Bagikan perspektif Anda, sumbangkan wawasan dari keahlian Anda, dan berkontribusilah dalam memperkaya pemahaman pembaca kami.
Sumber : Antara
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.