Oleh: Trias Kuncahyono
KOMPAS.TV - Salah seorang saksi mata ketika Paus Bonifacius VIII, (bertakhta, 1294–1303), pada tanggal 22 Februari 1300 memaklumkan Tahun Yubileum pertama, yang disebut Tahun Suci adalah Dante Alighieri.
Tokoh kondang–dikenal sebagai penyair, penulis, dan filsuf–yang hidup dari 1265 hingga 1321 ini, saat itu ada di Lapangan Santo Petrus, Vatikan.
Baca Juga: Urbi Et Orbi
Bersama para tokoh mahsyur lainnya–semisal, Giovanni Cimabue (pelukis), Giotto di Bondone (pelukis dan arsitek), Carlo de Valois saudara laki-laki Raja Perancis dan istrinya Catherine–Dante yang berasal dari Florence menjadi bagian dari ribuan peziarah.
Dante Alighieri menuliskan pengalaman batinnya selama di pengasingan, setelah hadir di Lapangan Santo Petrus itu dalam Divine Comedy.
Puisi alegoris ini menggambarkan perjalanan jiwa kepada Tuhan melalui neraka (hell), api penyucian (purgatory), dan surga (heaven).
Kata Paus Paulus VI dalam Surat Apostoliknya, Altissimi cantus, Lagu Tertinggi, “Tujuan utama dari Divine Comedy adalah praktis dan transformatif. Puisi itu tidak hanya berusaha menjadi puisi yang indah dan baik secara moral tetapi secara efektif mampu mengubah manusia secara radikal membawanya dari kekacauan menuju kebijaksanaan, dari dosa menuju kekudusan, dari kemiskinan menuju kebahagiaan, dari merenungkan kengerian neraka menuju kebahagiaan surga” (n .17)
Dalam Surat Apostoliknya, Condor Lucis Aeternae, Kejujuran Cahaya Abadi, saat peringatan 700 tahun kematian Dante (2021), Paus Fransiskus bahkan menyebut penyair dari Florence itu sebagai “nabi pengharapan.”
Kata Paus, puisi Divine Comedy sebagai “sebuah perjalanan epik, sungguh, sebuah ziarah sejati, personal dan interior, namun juga komunal, gerejawi, sosial dan historis.” Karena “mewakili paradigma untuk setiap perjalanan otentik di mana umat manusia dipanggil untuk meninggalkan apa yang disebut oleh penyair “lantai pengirikan yang membuat kita begitu bangga”, untuk mencapai keadaan baru yang harmonis, damai dan bahagia”.
***
Ketika itu, para peziarah dari seluruh pelosok Eropa merasakan jiwanya bergejolak. Ada suasana batin, jiwa yang menggerakkan mereka berjalan kaki dari kampung halamannya menuju Roma. Kiranya, Dante pun demikian.
Situasi dunia Eropa pada akhir abad ke-13, seperti ketika pandemi Covid-19 melanda dunia. Di negara-negara Eropa, yang mayoritas penduduknya Kristiani, maka disebut Christendom, menderita karena peperangan dan wabah segala macam penyakit.
Dalam penderitaan seperti berada di jurang paling dalam itu, sebagaimana umumnya manusia, lalu ingat Tuhan lagi. Begitulah mereka pada waktu itu, juga sekarang. Perjumpaan dengan Tuhan terjadi lewat penderitaan.
Penderitaan lah yang mendorong mereka kembali ke cara hidup yang lebih suci. Mereka yakin bahwa masih ada kesempatan untuk membangun rekonsiliasi baru (dengan Tuhan): dilutio peccaminum, penghapusan dosa. Ada yang yakin akan memperoleh indulgensi penuh, indulgensi seratus tahun, dan ada yang yakin akan memperoleh indulgensi sebagian dengan ziarah ke Roma.
Katekismus Gereja Katolik 1471 memberikan definisi indulgensi sebagai “penghapusan siksa-siksa temporal di depan Allah untuk dosa-dosa yang sudah diampuni. Warga beriman Kristen yang benar-benar siap menerimanya, di bawah persyaratan yang ditetapkan dengan jelas, memperolehnya dengan bantuan Gereja, yang sebagai pelayan penebusan membagi-bagikan dan memperuntukkan kekayaan pemulihan Kristus dan para kudus secara otoritatif”
Maka dengan iman yang besar umat Kristiani di masa itu, bertekad untuk melakukan perjalanan (berjalan kaki, ziarah) ke Roma. Mereka ingin berdoa di makam Rasul Petrus dan Paulus. Dan, menerima berkat Paus, agar memperoleh rahmat dan kekuatan untuk melanjutkan perjalanan perziarahan hidup.
Ribuan orang dari berbagai penjuru Eropa, pada Desember 1299, datang ke Roma; merayakan Natal di Kota Abadi, sekaligus memohon berkar dari Paus. Ketika tahun sudah bergeser ke 1300, jumlah mereka semakin banyak.
***
Baca Juga: Ecce Venio Ad Te
Paus Bonifacius VIII, paus ke-193 pun tergerak hatinya oleh belas kasih melihat begitu banyak peziarah yang haus akan berkat keselamatan. Maka, pada tanggal 22 Februari 1300, Paus mengabulkan permintaan para peziarah yang ingin memperoleh berkat pengampunan atas dosa-dosanya.
Peristiwa itu ditandai dengan dikeluarkannya Bulla (surat resmi dari Takhta Suci) Antiquorum habet fida relatio, Orang dahulu mempunyai laporan yang dapat diandalkan, yang memproklamasikan Yubileum pertama dalam sejarah Gereja.
Pada awalnya, Paus Bonifasius menetapkan bahwa Tahun Suci harus dideklarasikan setiap 100 tahun. Namun, menjawab permintaan umat, Paus Klemens VI (1342), menetapkan Tahun Yubileum diselenggarakan setiap 50 tahun.
Lalu, pada tahun 1389, untuk mengenang jumlah tahun dalam kehidupan Kristus, Paus Urbanus VI memilih untuk menetapkan siklus Yubileum menjadi setiap 33 tahun. Namun, tak terlaksana.
Perayaan Tahun Yubileum siklus 50 tahun terakhir dilaksanakan oleh Paus Nicholas V pada tahun 1450. Lalu Paus Sixtus VI merayakan Tahun Yubileum, Tahun Suci pada tahun 1475. Sejak saat itu, Tahun Yubileum dilaksanakan setiap 25 tahun.
Paus memiliki hak prerogatif untuk menentukan setiap berapa tahun sekali tahun Yubileum itu. Maka pada akhir 2015 (meski belum 25 tahun dihitung dari tahun 2000 saat Yubileum Kerahiman Ilahi) Paus Fransiskus memaklumkan “Tahun Yubileum Luar Biasa” untuk memperingati 50 tahun berakhirnya Konsili Vatikan Kedua, yang berpusat pada tema: “Bermurah hati seperti Bapa.”
***
Tahun ini, adalah Tahun Yubileum Biasa yang bertema Peregrinantes in Spem atau Pilgrims of Hope atau “Penziarah Pengharapan”. Tema ini mencerminkan dengan cermat bagaimana Paus Fransiskus melihat perannya sendiri, dan peran gereja di dunia yang penuh dengan krisis dan konflik. Krisis dan konflik saat ini telah mengoyak dunia.
Tahun Yubileum disebut Tahun Suci, bukan hanya karena dimulai, ditandai, dan diakhiri dengan tindakan suci yang khidmat. Tetapi juga karena tujuannya adalah untuk mendorong kesucian hidup. Ini seperti ratusan tahun silam, ribuan orang berziarah ke Roma, berdoa di makam Santo Petrus dan Paulus, untuk memperbaharui hidup.
Dahulu, dengan berziarah ke Roma, orang memperbaharui hidup, meninggalkan cara hidup lama ke cara hidup. Cara hidup lama yang diwarnai perseteruan, iri hati, amarah, dendam, mementingkan diri sendiri, dan melukai orang lain, mereka tinggalkan.
Dan, mereka memilih cara hidup baru. Dengan cara hidup baru seseorang mengaku dan percaya serta mampu menempatkan dirinya dalam perilaku yang lebih baik. Dengan kata lain, cara hidup baru berarti menjauhkan dirinya dari segala hal yang buruk atau larangan
Menurut Paus Fransiskus, cara hidup baru itu berdasarkan kebenaran, pengampunan, kebebasan, dan keadilan. Hidup diperbaharui melalui pelayanan dan persaudaraan, khususnya terhadap kelompok yang paling rentan, dan melalui tanggung jawab terhadap “rumah kita bersama” di bumi yang “disalahgunakan dan dilukai.”
Maka, diharapkan dengan Tahun Suci ini, umat memperkuat iman, mendorong karya amal dan persekutuan persaudaraan dalam Gereja dan masyarakat yang terkoyak oleh berbagai konflik, aksi teror, ketegangan sosial, dan terciptanya hambatan-hambatan baru yang memecah belah masyarakat.
Kata Paus dalam State of the World tahunan di hadapan anggota Korps Diplomatik yang terakreditasi untuk Takhta Suci, hari Kamis (9/1), di Aula Berkat (Hall of Benediction), Vatikan, kondisi dunia sekarang ini, memanggil semua pihak menemukan kembali “apa yang benar-benar penting.”
Hal itu dilakukan dengan mengesampingkan “logika konfrontasi” dan lebih memilih menganut “logika perjumpaan.” Dengan demikian “masa depan tidak membuat kita terkatung-katung tanpa harapan, namun terus maju sebagai peziarah harapan, penziarah pengharapan, individu dan komunitas bergerak, serta berkomitmen untuk membangun masa depan yang damai.”
***
Baca Juga: Negeri di Atas Awan
Dulu, Dante sang peziarah ketika menggambarkan para peziarah yang berangkat ke tempat-tempat suci, dengan mengisyaratkan keadaan pikiran dan perasaan terdalamnya sendiri: “Wahai para peziarah yang berpikir keras…” (Vita Nuova, 29 [XL (XLI), 9 ], v.1).
“Sekaranglah saatnya untuk mengembalikan hasrat; Pada mereka yang mengarungi lautan, dan meluluhkan hati; Hari di mana mereka mengucapkan selamat tinggal pada sahabat manis mereka” (Purgatorio 1-3).
Dan, melangkahlah melintasi Porta Santa, Pintu Suci, Basilika Santo Petrus, yang dibuka Paus Fransiskus, 24 Desember 2024 malam….dengan kepala menunduk, mohon pengampunan….
Sumber : Kompas TV
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.