Pada tahun 2004, mereka mendirikan sebuah sekolah di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan, dan pada November 2007 membangun tempat bermain anak.
Dari pernikahannya dengan Uchu Riza, ia memiliki dua anak: Muhammad Kerry Adrianto dan Kenesa Ilona Rina.
Jejak Bisnis dan Kontroversi
Nama Riza Chalid tidak asing dengan kontroversi dalam dunia perdagangan minyak.
Bisnisnya, yang sebagian besar berbasis di Singapura melalui perusahaan seperti Supreme Energy, Paramount Petroleum, Straits Oil, dan Cosmic Petroleum, disebut-sebut memiliki pengaruh besar dalam impor minyak nasional.
Pada tahun 2015, kekayaannya diperkirakan mencapai US$415 juta, menjadikannya salah satu orang terkaya di Indonesia dan menempatkannya di peringkat 88 dalam daftar Globe Asia.
Bisnis minyaknya sendiri diperkirakan menghasilkan hingga US$30 miliar per tahun.
Selain dunia perminyakan, keterlibatan Riza Chalid dalam berbagai isu strategis juga mencakup sektor pertahanan.
Pada tahun 1997, ia mewakili PT Dwipangga Sakti Prima, perusahaan milik Mamiek Soeharto dan Bambang Trihatmodjo, dalam pembelian pesawat Sukhoi dari Rusia.
Perusahaan ini sebelumnya tersangkut kasus mark-up pengadaan pesawat Hercules pada 1996.
Nama Riza juga sempat dikaitkan dengan polemik perpanjangan izin operasi PT Freeport Indonesia, di mana ia disebut-sebut memiliki peran dalam negosiasi yang menyeret Ketua DPR RI saat itu, Setya Novanto.
Tak hanya di dunia bisnis, pengaruhnya juga terasa dalam dinamika politik Indonesia. Ia diduga berperan sebagai salah satu penyokong dana dalam Pemilu 2014, khususnya untuk pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa.
Baca Juga: Dugaan Mendes Yandri Cawe-Cawe Pilkada Istri, Pakar Hukum: Pejabat Negara Harus Netral
Sumber : Kompas TV, Antara News, Tribun News
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.