> >

Jangan Abai, Berikut Gejala GERD yang Harus Diwaspadai

Advertorial | 28 Juni 2022, 19:49 WIB
Ilustrasi GERD (Sumber: Dok. SHUTTERSTOCK)

KOMPAS.TV – Dalam beberapa tahun terakhir, penyakit pencernaan gastroesophageal reflux disease atau GERD ramai diperbincangkan.

Pada 2009, jumlah penderita GERD di Indonesia diperkirakan mencapai 4 juta orang. Angka tersebut diyakini terus meningkat seiring kecenderungan gaya hidup tidak sehat masyarakat.

Untuk diketahui, GERD terjadi ketika asam lambung mengalir balik ke kerongkongan. Kondisi ini dikenal dengan istilah refluks.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroentero hepatologi atau endoskopi, Dr. dr. Tjahjadi Robert Tedjasaputra, Sp.PD-KGEH, FINASIM, dari Siloam Hospitals Lippo Village menjelaskan refluks bisa dipicu oleh berbagai hal.

“Refluks terjadi akibat adanya gangguan pembersihan asam esofagus atau sebagian lambung menonjol ke dalam rongga dada (hiatal hernia),” ujar dr. Robert dalam video yang diterima Kompas TV, Kamis (23/6/2022).

Baca Juga: Apa Perbedaan Maag dan Gerd? Begini Penjelasannya

Selain itu, refluks asam lambung juga bisa terjadi karena kerusakan katup kerongkongan atau lower esophageal sphincter (LES).

dr. Robert mengatakan, kerusakan fungsi LES disebabkan peningkatan tekanan intraabdomen dan keterlambatan pengosongan lambung.

Karena itu, penderita GERD kerap merasa asam dan pahit di lidah atau panas di ulu hati hingga menjalar ke dada (heartburn).

Penderita GERD juga sering merasa mual, kembung, cepat kenyang, sakit ketika menelan (odinofagia), dan sulit menelan (disfagia). Bahkan, kondisi ini juga bisa menyebabkan produksi cairan ludah berlebih di dalam mulut.

Meski gejalanya cukup mengganggu, penderita GERD biasanya mengabaikan hal tersebut.

“Gejala GERD juga bisa terjadi di luar kerongkongan, seperti nyeri dada bukan karena serangan jantung (nonkardiak), batuk kronis, asma, dan peradangan yang menyebabkan pita suara membengkak sehingga suara menjadi serak atau laringitis,” jelas dr. Robert.

Diagnosis, penanganan, dan pencegahan

Sebetulnya, gejala serupa GERD bisa saja ditemukan pada penyakit pencernaan lain. Guna membedakannya, lanjut dr. Robert, pelayanan kesehatan akan meminta pasien mengisi kuesioner khusus.

Selain itu, diagnosis GERD juga bisa dilakukan dengan pengukuran tingkat keasaman (pH) kerongkongan atau pH Metri serta pemantauan (monitoring) pH kerongkongan atau pH Impedance.

“Pasien juga bisa melakukan PPI Test, yakni uji pemberian obat golongan proton pump inhibitor (PPI), seperti omeprazole, lansoprazole, esomeprazole, pantoprazole, dan rabeprazole,” jelas dr. Robert.

Namun, dr. Robert memperingatkan bahwa semua obat tersebut memiliki efek samping. Oleh sebab itu, pasien disarankan berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

DR. dr. Tjahjadi Robert Tedjasaputra, SpPD-KGEH., FINASIM, dari RS Siloam Hospitals Lippo Village. (Sumber: Dok. Siloam Hospitals)

Kemudian, dr. Robert juga meminta penderita GERD untuk mewaspadai obat-obatan yang dapat memperparah kondisi tersebut.

Beberapa obat itu di antaranya adalah aspirin, nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAID), dan bisphosphonates.

Baca Juga: Kenali Risiko Tidur Setelah Sahur bagi Kesehatan, Waspada Terserang GERD dan Sembelit

Seperti diketahui, gaya hidup tidak sehat dapat memperburuk kondisi GERD. Oleh sebab itu, dr. Robert menyarankan masyarakat untuk memodifikasi gaya hidup guna pemulihan penyakit ini.

“Jaga berat badan, olahraga secara teratur, dan hindari kebiasaan merokok untuk mencegah GERD,” ujar dr. Robert.

Kemudian, penderita GERD sebaiknya juga menghindari mengonsumsi makanan atau minuman yang memicu kenaikan asam lambung, seperti alkohol, susu, coklat, mint, dan kopi, serta makanan yang pedas dan berlemak.

dr. Robert pun menyarankan penderita GERD tidak berbaring atau tidur setidaknya 2 sampai 3 jam setelah makan, meninggikan posisi kepala saat berbaring, dan mematikan lampu saat tidur guna mengurangi gangguan.

Baca Juga: Dok Ibu Saya Menderita Gerd, Apakah Aman untuk Berpuasa??

“Jika GERD tidak membaik, pasien dapat berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan perawatan lebih lanjut, misalnya dengan melakukan pengobatan endoskopi,” kata dr. Robert.

Dia juga menyarankan agar masyarakat memeriksakan kondisi kesehatan secara rutin untuk mengidentifikasi gejala GERD atau penyakit lain.

Dengan demikian, gejala tersebut bisa ditangani sedini mungkin sesuai dengan prosedur yang tepat.

Penulis : Adv-Team

Sumber : Kompas TV

Tag

TERBARU