> >

Penyebaran Omicron Juga "Sangat Cepat" di Luar Jawa (1)

Bbc indonesia | 7 Februari 2022, 18:36 WIB
Percepatan vaksinasi Covid-19 di Papua Barat pada 13 Desember 2021 (Sumber: Antara)

Penyebaran kasus Covid-19 varian Omicron pada provinsi dengan cakupan vaksinasi yang rendah seperti Papua dikhawatirkan berdampak fatal pada kelompok lanjut usia, kata Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.

Menurut Dicky, penyebaran varian Omicron yang diasumsikan "lebih ringan" dibanding varian Delta tidak bisa "dianggap remeh" karena berpotensi meningkatkan kematian pada kalangan lansia dan pengidap komorbid.

"Modal imunitas di luar Jawa-Bali masih sangat minim, banyak yang (vaksinasinya) belum sampai 50 persen. Ini akan menempatkan potensi angka hunian rumah sakit dan kematian tinggi pada kelompok lansia," kata Dicky kepada BBC News Indonesia, Minggu (6/2).

Di Kota Jayapura, Papua, penyebaran varian Omicron telah meningkatkan jumlah kasus baru hampir dua kali lipat dalam kurun empat hari, tetapi progres vaksinasi berjalan lambat. Baru sekitar 10% lansia di Papua yang telah menerima dua dosis vaksin.

Meski mayoritas kasus Omicron yang dilaporkan bergejala ringan, Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Papua, Silwanus Sumule, mengatakan ada kekhawatiran dampak yang lebih fatal terjadi pada kelompok rentan.

"Itu kekhawatiran kami, makanya kami berupaya meningkatkan cakupan vaksinasi dan menyiapkan rumah sakit, karena kekhawatiran itu ada," kata Silwanus melalui sambungan telepon.

Baca juga:

Kekhawatiran serupa juga terjadi di Sumatra Barat, di mana lebih dari 90% sampel kasus yang diperiksa sejak akhir Januari lalu merupakan varian Omicron.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan kasus kematian yang terjadi belakangan ini membuktikan bahwa varian Omicron dapat berdampak fatal terhadap lansia dengan penyakit penyerta (komorbid).

Penularan Omicron sangat cepat, vaksinasi berjalan lambat

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Papua, Silwanus Sumule, mengatakan pola peningkatan kasus di Jayapura meningkat sangat cepat dalam sepekan. Satgas mencatat ada 155 kasus baru pada 2 Februari, tetapi jumlahnya meningkat menjadi 312 kasus baru pada 5 Februari.

"Pola penyebarannya cepat sekali, dari pola itu kami mencurigai bahwa ini adalah varian Omicron," kata Silwanus.

Sejauh ini, Silwanus mengatakan belum ada kasus kematian yang disebabkan oleh varian Omicron di Papua. Namun, dia mengatakan angka infeksi yang diprediksi masih akan meningkat cepat dalam beberapa pekan ke depan bisa berdampak fatal bagi lansia dan orang-orang yang belum divaksin.

Silwanus mengklaim pemerintah dan Satgas Covid-19 telah berupaya mempercepat program vaksinasi. Tetapi data menunjukkan baru 14,37% lansia yang telah menerima dosis pertama, dan 10,6% lansia yang telah mendapat dosis kedua.

Menurut dia, hal itu bukan karena vaksin tidak tersedia, tetapi "butuh waktu menyadarkan masyarakat akan pentingnya vaksinasi."

"Upaya sudah dilakukan, tapi fakta di lapangan belum semua orang divaksin, memang perlu effort yang kuat untuk meyakinkan mereka," ujar Silwanus.

Baca juga:

Di Bukittinggi, Sumatra Barat, seorang warga bernama Widiriyani, 55, mengaku cemas akan risiko terinfeksi varian Omicron yang kini telah teridentifikasi di wilayah itu.

Hal itu membuat Widi kemudian berupaya mencari vaksin booster, mengingat dia menerima vaksin dosis kedua pada Juni 2021.

"Saya sempat tanya ke petugas puskesmas tentang vaksin booster, tapi belum ada karena mereka masih menyelesaikan vaksinasi dosis satu dan dua, sementara di sini banyak masyarakat enggan divaksin," kata Widiriyani kepada BBC News Indonesia.

"Walaupun sudah dua kali vaksin, rasanya dengan usia yang sudah di atas 50 itu daya tahan tidak seperti anak muda," lanjut dia.

Menurut Widi, banyak orang-orang di sekitarnya tidak lagi menggunakan masker saat beraktivitas. Berbagai acara digelar dengan protokol kesehatan yang longgar, tanpa membatasi jumlah orang yang hadir.

Belakangan, dia juga mendengar kabar dari orang-orang sekitarnya yang mengalami demam berbarengan satu keluarga. Namun lantaran tidak dites, tidak diketahui apakah mereka terinfeksi Covid-19 atau bukan. Hal itu menambah kekhawatiran Widi terhadap risiko terinfeksi varian Omicron.

"Saya cuma bisa berusaha semaksimal mungkin pakai masker setiap keluar rumah dan menghindari kerumunan," kata dia.

Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Terpadu Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran di Universitas Andalas, Andani Eka Putra, mengatakan mayoritas kasus Omicron yang terdeteksi sejauh ini bergejala ringan dan menjalani isolasi mandiri.

Sampai Minggu (6/2), penyebaran varian Omicron di Sumatra Barat belum menyebabkan tekanan pada fasilitas kesehatan. Tetapi dia mewanti-wanti agar pemerintah daerah segera menggencarkan vaksinasi dan memperketat penerapan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Pasalnya, baru 50% penduduk Sumatra Barat yang telah divaksin lengkap sejauh ini, sehingga apabila infeksi sampai pada kelompok yang belum divaksin dampaknya bisa fatal seperti yang sudah terjadi di berbagai negara, seperti Amerika Serikat.

"Kecemasan kita seperti itu. Fenomena yang terjadi di luar (kematian tinggi pada lansia dengan komorbid) akan berimbas ke kondisi kita di sini, meskipun sampai saat ini itu belum nampak," kata dia.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan memprediksi lonjakan kasus Omicron yang saat ini terjadi di Pulau Jawa akan bergeser ke luar Pulau Jawa dalam tiga hingga empat minggu ke depan.

Varian Omicron kini telah mendominasi 80% penularan di Pulau Jawa, sehingga angka infeksinya diprediksi masih akan meningkat tiga hingga enam kali lipat sampai akhir Februari.

 

 

Artikel ini merupakan hasil liputan BBC Indonesia yang ditayangkan juga di Kompas.TV

 

Penulis : Edy-A.-Putra

Sumber : BBC


TERBARU