> >

Kasus Suspek Hepatitis Akut Bertambah di Indonesia, Benarkah Disebabkan Vaksin Covid-19?

Bbc indonesia | 6 Mei 2022, 20:37 WIB
Ilustrasi anak-anak yang menjadi paling rentan terinfeksi hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya. (Sumber: Tribun Jogja/Memorial Regional Health)

Epidemiolog dari Universitas Griffith di Australia, Dicky Budiman, mengatakan penyakit hepatitis tidak bisa dilepaskan dari pandemi Covid-19.

Sebab pada tahun 2020 di Wuhan, terdapat temuan bahwa SARS-CoV-2 menyebabkan penurunan fungsi hati atau radang hati.

Namun begitu, kasus yang muncul pada anak tidak terlalu banyak dan umumnya tidak bergejala atau memiliki gejala ringan.

Dan kalaupun bergejala, anak tersebut mengalami gangguan imunitas.

"Pada kasus ini (hepatitis akut yang positif adenovirus), terjadi pada anak yang sehat atau tidak ada gangguan imunitas. Ini yang sedang diteliti," ujar Dicky Budiman.

Dicky juga mengatakan tidak ada data yang kuat untuk mengaitkan hepatitis akut dengan vaksin Covid-19.

Ini karena kebanyakan anak yang terinfeksi hepatitis akut belum divaksinasi.

"Hepatitis akut ini paling banyak kasus kepada anak di bawah lima tahun. Kalau misalnya disebabkan vaksin, orang dewasa lah yang seharusnya paling banyak kena."

"Jadi kita belum tahu penyebabnya apakah betul dari SARS-CoV-2 atau virus lain, atau ada varian baru?"

Hingga kini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

Dicky justru khawatir Indonesia bisa sangat rawan terhadap hepatitis akut lantaran kasus gizi buruk dan stunting anak di bawah usia lima tahun meningkat sejak pandemi.

Perwakilan UNICEF untuk Indonesia mencatat sebelum terjadi pandemi ada sekitar 2 juta anak menderita gizi buruk dan lebih dari 7 juta anak mengalami stunting.

Belum lagi persoalan sanitasi di Indonesia masih jauh dari ideal. Data Kemenkes menunjukkan ada 8,6 juta rumah tangga yang anggota keluarganya mempraktikkan buang air besar sembarangan per Januari 2020.

Bagaimana menangkal hoaks atau misinformasi hepatitis akut?

Platform media sosial Facebook dan aplikasi percakapan seperti WhatsApp menjadi medium yang gencar menyebarkan hoaks maupun misinformasi, kata Mafindo.

Seorang ibu satu anak di Jakarta, Ayu Poernamaningrum, pernah melihat sendiri temuan Mafindo.

Ia mengaku pernah membaca komentar sebuah akun di Facebook yang menyebut bahwa hepatitis akut disebabkan vaksin Covid-19.

Misinformasi seperti itu, kata dia, menambah cemas apalagi pandemi belum sepenuhnya berakhir dan sekolah tatap muka sudah diberlakukan kembali.

"Terus terang panik banget, ini pandemi belum berakhir, ada lagi penyakit yang bikin anak kecil meninggal. Sedangkan anak diare atau demam hal biasa. Jadi untuk gejala awal, ibu-ibu nggak terlalu paham kalau itu penyakit hepatitis akut," imbuh Ayu.

"Ditambah mereka sudah masuk sekolah, sudah enggak bisa terkontrol deh, main apa, tukeran makanan."

Sejak Kemenkes mengumumkan adanya tiga anak di Jakarta meninggal dengan dugaan hepatitis akut, Ayu mencari sendiri informasi soal penyakit itu dengan menjelajahi situs dari luar negeri.

Di Indonesia, menurutnya, belum terlalu fokus dan tidak detail membahas penyakit tersebut.

"Disebutkan sih oleh Kemenkes gejalanya, tapi nggak detail misalnya anak yang meninggal itu riwayatnya bagaimana. Supaya kita tahu kemungkinan-kemungkinan kena di mana dan seperti apa nularnya."

"Detil-detil itu yang mestinya dijelaskan, biar waspada."

Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho, meminta pemerintah mulai menerbitkan informasi prebunking untuk menangkal misinformasi soal hepatitis akut.

"Prebunking itu melakukan deteksi dan prediksi terhadap hoaks sehingga sebelum hoaks itu tersebar kita sudah ketemu klarifikasi atau edukasinya. Itu yang perlu pemerintah buat sekarang dan disebarkan sekarang."

"Kalau prebunking kan yang disasar kepercayaan masyarakat. Sehingga masyarakat tidak lari ke tempat lain."

Sebab jika tidak ditangkis, maka publik akan kehilangan kepercayaan pada tenaga medis dan akhirnya mengambil keputusan sendiri.

"Yang kita khawatirkan wabah bisa lebih parah dampaknya ketimbang ketika masyarakat tidak termakan hoaks. Dalam kasus Covid-19, masyarakat yang percaya hoaks mereka tidak mau ke rumah sakit akhirnya meninggal."

Menjawab desakan itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan pemerintah masih mengandalkan aplikasi hoax buster di situs Covid19 milik Kominfo.

Dengan aplikasi itu, informasi tidak benar akan dilabeli hoaks dan disebarkan.

"Cuma kalau unggahan di aplikasi privat sulit, kecuali sudah viral."

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : BBC


TERBARU