> >

Waspada, Virus Hendra yang Mematikan pada Kuda Berpotensi Menular ke Manusia, Simak Gejalanya

Bbc indonesia | 2 Juni 2022, 00:36 WIB
Ilustrasi virus Hendra. Para peneliti di Australia mengidentifikasi varian baru virus Hendra yang tidak dikenali sebelumnya, yang diduga berpotensi lebih menular ke manusia. (Sumber: Getty Images via BBC)

Kelangsungan hidup lebih lama dalam kondisi lembab yang sejuk di mana pH mendekati netral.

Bagaimana jika virus Hendra menginfeksi manusia?

Sementara itu, pada manusia, gejala infeksi virus Hendra biasanya berkembang antara lima sampai 21 hari setelah kontak dengan kuda yang terinfeksi.

Manusia yang tertular virus Hendra akan mengalami demam, batuk, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Umumnya, kelelahan timbul sebagai gejala awal.

Selanjutnya, infeksi bisa lebih parah dan menyebabkan meningitis atau ensefalitis (radang otak), yang menyebabkan sakit kepala, demam tinggi, dan kantuk. Kadang bisa kejang-kejang atau bahkan koma.

Infeksi virus Hendra juga bisa berakibat fatal pada manusia.

Sejauh ini belum ada pengobatan khusus untuk infeksi virus Hendra. Di Australia, biasanya kasus infeksi ditangani di rumah sakit. Obat antivirus belum terbukti efektif dalam mengobati infeksi virus Hendra.

Orang yang pernah terpapar cairan tubuh kuda yang terinfeksi mungkin akan ditawarkan pengobatan eksperimental dengan jenis antibodi yang dapat mencegah infeksi.

Dicky Budiman mengatakan risiko kematian pada manusia yang terinfeksi virus Hendra bisa mencapai 60%. "Satu dari dua yang terinfeksi bisa meninggal. Dari awal ditemukan sudah seperti itu. Artinya, kalau ada strain-strain baru, ini fatal sekali, semua yang kena bisa meninggal," kata Dicky menjelaskan.

Berpotensi jadi wabah serius

Hingga saat ini, Dicky mengatakan belum ada catatan yang menunjukkan infeksi virus Hendra pada manusia di Indonesia. Perlu ada penelitian untuk memetakan sebaran virus Hendra di Indonesia karena bukan tidak mungkin virus itu sudah ada. Penelitian pada 2013 lalu menjadi salah satu bukti keberadaan virus Hendra di Indonesia.

"Kita sudah waktunya untuk memetakan penyakit-penyakit yang ada di hewan ini termasuk dukungan pemerintah pusat untuk penganggarannya untuk melakukan surveillance karena ini memberikan data, gambaran, penyakit-penyakit di hewan yang berpotensi menular ke manusia. Jadi kita bisa deteksi awal," kata Dicky. Dalam hal ini, Kementerian Pertanian yang mengambil peran dan harus merepons hasil-hasil penelitian tentang deteksi dini penyakit baru dari hewan-hewan.

"Kalau mau memperbaiki respons, belajar dari situasi pandemi ini, kita sudah enggak bisa hanya di manusia, tetapi di hewan," ujar Dicky.

Dia menambahkan, jika tidak ditangani dengan baik, virus Hendra berpotensi menjadi wabah yang serius karena fatalitasnya sangat tinggi. Hal itu mungkin bisa terjadi dalam "satu atau dua tahun lagi".

Namun, untuk sampai pada pandemi, Dicky memprediksi masih sangat jauh.

Sementara itu, berbicara soal potensi kerusakan yang ditimbulkan virus Hendra, Dicky memprediksi kondisi di Indonesia bisa jadi lebih buruk dengan Australia, tempat awal virus Hendra ditemukan. Sebab, masih banyak warga yang masih hidup berdampingan dengan hewan-hewan, berbeda dengan Australia, di mana peternakan-peternakan berada jauh dari pemukiman.

"Kita sendiri dari sisi penataan, lokasinya sangat rentan, dekat dengan manusia, padat penduduk, sanitasinya juga buruk, surveillance-nya juga buruk atau rendah. Artinya, potensi beban lebih besar ada di negara-negara berkembang dan negara miskin," kata Dicky.

Dalam hasil penelitian yang mengungkap keberadaan virus Hendra di Indonesia pada 2013 lalu, para peneliti mengatakan temuannya itu merupakan "peringatan dini" bagi para pemangku kepentingan untuk memberikan perhatian serius terhadap virus Hendra, "agar terjadinya wabah bisa diantisipasi".

Pada 2017, Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian pernah mengatakan telah melakukan pencegahan masuknya wabah virus Hendra ke Indonesia dengan melaranga importasi kuda dan produk turunannya dari Australia.

Selain itu, Kementerian Pertanian juga mengimbau masyarakat untuk menghapus budaya mengkonsumsi kelelawar karena dari hasil penelitian kelelawar berperan dalam penyebaran virus Hendra.

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : BBC


TERBARU