> >

Mengenang Sisi Religius Bj Habibie, sang Pemersatu Cendekiawan Muslim

Risalah | 1 Mei 2022, 05:45 WIB
FOTO DOKUMENTASI. Presiden ketiga RI BJ Habibie melambaikan tangan saat akan menghadiri Sidang Tahunan MPR Tahun 2015 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2015). Simak sisi religus sosok ini (Sumber: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Salah satu sisi menarik dari Presiden Ketiga RI, BJ Habibie, adalah sisi religius yang ia wariskan sebagai wacana ideal tentang manusia Indonesia: modern, cerdas dan agamis.

Sepanjang hidup mengabdikan diri pada negeri, Rudi, sapaan kecil dari BJ Habibie senantiasa menjadikan sains sebagai sebuah metode berpikir yang tidak sendirian. Baginya, selalu ada iman dan takwa sebagai penyeimbang rasionalitas dalam sains.

Dalam memoar yang ia tulis, Habibie dan Ainun, ia mengisahkan bagaimana harusnya landasan berpikir bagi seorang manusia, khususnya manusia Indonesia agar tidak kalah dengan keadaan.

“Manusia sepanjang masa tidak boleh berhenti untuk meningkatkan Imtak yang harus seimbang Iptek,” katanya.

Habibie adalah contoh seorang yang tidak hanya berteori, lebih dari itu, ia mengamalkan sisi Imtak atau iman takwa dalam kehidupannya sehari-hari.

A Makmur Makka dalam biografi BJ Habibie: Kisah Hidup dan Kariernya (1995) mengisahkan bagaimana ia hidup dengan sisi religius yang seolah menyatu dalam dirinya.

“Karena pengaruh salat, saya fresh. Karena gerakannya itu, juga pikirannya. Saat kita tidak memikirkan sesuatu yang ruwet. Sebab Tuhan tidak ruwet, very simple, clean and clear. Otak kita seperti dibersihkan dengan salat lima kali,” kata Habibie di buku tersebut (hal.105).

Baca Juga: Jejak dan Pengaruh Buya Hamka: Ulama dan Ahli Tafsir yang Sastrawan

Jejak BJ Habibie dan Kontribusi pada Islam

BJ Habibie lahir 5 Juni di Parepare dan memang sedari kecil sangat gemar pengetahuan. Ia sedari kecil sudah menunjukan sisi religus.

Ia pun bercerita, dirinya memang tidak pernah secara formal belajar di lembaga seperti pesantren atau sekolah berbasiskan Islam, tapi ia merasa dekat karena ibunya adalah sosok muslimah tangguh dan religus.

Rudi kecil juga pernah menjuarai ajang baca Al-Qur’an secara tahsin dan fasih. Bukti ia memang dekat dengan agama dan Al-Qur’an sedari belia.

“Saat itu belum ada MTQ ya, tetapi saya bukan ahli agama,” katanya.

Pengaruh religiusitas ini yang kelak senantiasa terpatri dalam dirinya ketika menjadi sosok ilmuwan. Baik ketika di Jerman maupun ketika kembali di Indonesia dan menjadi sosok penting bagi transisi demokrasi Indonesia, yakni jadi presiden pada tahun 1998-1999.

Baca Juga: KH Zainul Arifin Pohan, Ulama Pelindung Bung Karno yang Ditembak waktu Salat

Menyatukan Cendekiawan Muslim

Meskipun kerap mengaku diri bukan ahli agama, faktanya ia pernah menjadi pemimpin para ilmuwan dan cendekiawan yang berbasiskan agama.

Ia menjadi ketua Ikatan Cendekian Muslim Indonesia (ICMI) periode pertama. Ia dipilih pada tanggal 7 Desember 1990 di sebuah pertemuan kaum cendekiawan muslim di Kota Malang, Jawa Timur dan senantiasa jadi benteng ICMI sampai menghebuskan nafas terakhirnya.

Waktu itu, ia dipilih lantaran dianggap menjadi representasi paling pas ICMI, seorang teknokrat sekaligus ilmuwan dan sosok yang mewakili IPTEK dan Imtak sekaligus.

Prof Aris Munandar, Guru Besar dan Mantan Rektor Universitas Negeri Makassar, menyebut salah satu peran penting lewat ICMI yang ia bentuk adalah, perannya mendekatkan Islam ke pemerintahan Soeharto yang memang dikenal sekuler.

“Inilah yang menyenangkan, karena almarhum Islam hidup di lingkungan pemerintahan lewat masjid dan musala di kantor-kantor,” paparnya dalam sebuah testimoni dikutip dari Antara pada 11 September 2019.

Belum lagi, ia juga membolehkan jilbab dan symbol-simbol terkait agama kembali ditonjolkan sebagai bentuk demokratisasi saat sebelumnya, di era Orde Baru, direpresi sedemikian rupa, serta masih banyak lagi jasanya dalam mewujudkan sains dan iman dalam tubuh dan geraknya bagi negeri.

Wafat, Mewariskan Sisi Religiositas Abadi 

Jasanya yang besar inilah yang membuat wafatnya beliau dianggap jadi duka bagi umat Islam dan tentu saja bangsa Indonesia secara umum.

Sosok religius itu pun berpulang, Presiden keempat RI Habibie meninggal di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (11/9) pukul 18.05 WIB pada usia 83 tahun.

Ia pun dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, tepat di samping sosok yang ia cintai sepenuh hati, Ainun.

Keduanya adalah pasangan yang religius dan wafat mewariskan cinta itu kepada generasi setelahnya, kepada kita.

“Hidup dan perilaku Habibie dan Ainun selalu mencerminkan keseimbangan antara Iptek dan Imtak. Tiap hari salat 5 kali, berpuasa bersama Ainun tiap hari Senin dan Kamis,” kenang BJ Habibie dalam memor Habibie-Ainun.

Itulah sisi religus dari sosok HB Habibie. Sikap yang tidak hanya ada dalam pikiran dan otaknya, tapi juga menjadi cerminan laku hidupnya yang abadi dikenang bangsa Indonesia.

 

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU