> >

Cerita Jokowi Pulang dari KTT OKI, Perang Israel-Palestina Tidak Akan Berhenti dalam Waktu Dekat

Ekonomi dan bisnis | 30 November 2023, 11:56 WIB
Warga Palestina di Gaza yang mengungsi ke Selatan, Minggu, (26/11/2023). (Sumber: AP Photo)

JAKARTA, KOMPAS.TV- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan perang antara Israel dengan Hamas di Palestina tidak akan berhenti dalam waktu dekat.

Kesimpulan itu ia dapat setelah menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Arab Saudi beberapa waktu lalu. 

"Saya selalu ingin menghadiri konferensi, summit, pertemuan-pertemuan internasional karena memang ingin mendengar ini sebetulnya mau lari ke mana. Perangnya masih lama atau besok bisa berhenti, dampaknya apa terhadap ekonomi kita," kata Jokowi saat berbicara dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Rabu (29/11/2023) malam. 

Baca Juga: Kekejaman Tentara Israel: Tembak Mati Bocah Palestina Berusia 8 Tahun di Tepi Barat

"Sehingga sampai dua minggu saya datang ke Arab Saudi dua kali, dalam dua minggu dua kali. Saya hanya ingin mendengar konflik perang di Gaza ini akan seperti apa, konflik Israel-Palestina ini akan sampai kapan, karena yang hadir saat itu 57 negara. Tetapi, di akhir summit, saya dalam hati menyimpulkan bahwa memang perangnya tidak mungkin disetop dalam waktu dekat," ujarnya. 

Jokowi pun meminta semua pihak untuk bersiap menghadapi dampak perang, baik di Palestina maupun yang terjadi antara Rusia-Ukraina. 

Ia menyebut meski perang tersebut lokasinya jauh dari Indonesia, dampaknya akan merembet ke mana-mana. Seperti gangguan rantai pasok global, lonjakan harga pangan dan lonjakan harga energi. 

Baca Juga: Jokowi Ingatkan Perbankan soal Kredit Usaha: Kok Peredaran Uangnya Makin Kering?

Kemudian Jokowi juga mengingatkan dampak dari perubahan iklim terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya, pembatasan ekspor pangan oleh 22 negara. Padahal Indonesia belum bisa memenuhi sejumlah kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri. 

"Dulu yang namanya impor beras, semua negara menawarkan. Saya punya stok, saya punya stok, saya punya stok, sekarang 22 negara setop ekspor dan membatasi ekspor pangan," ujarnya. 

Penulis : Dina Karina Editor : Desy-Afrianti

Sumber :


TERBARU