> >

Ramai Tren Makan Natto, Makanan Tradisional Jepang dari Fermentasi Kedelai yang Beraroma Tak Sedap

Lifestyle | 21 Juli 2022, 17:36 WIB
Natto, makanan tradisional Jepang yang terbuat dari fermentasi kedelai. (Sumber: SHUTTERSTOCK/ K321)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Makan natto jadi tren baru di media sosial, terutama di Tiktok. Sudah banyak para kreator konten yang mencoba mencicipi makanan tradisional asal Jepang yang satu ini.

Rata-rata tema videonya adalah reaksi mereka saat mencoba natto untuk pertama kali. Beberapa di antara mereka tampak menikmatinya.

Tetapi, tidak sedikit juga yang menunjukkan ketidaksukaannya, hingga memuntahkan kembali natto yang sudah dimakan.

Melansir Japan Living Today, natto adalah hidangan asal Jepang yang terbuat dari kedelai yang difermentasikan.

Baca Juga: Menua dengan Sehat, Ini Jenis Makanan yang Baik Dikonsumsi di Usia 50-an dan 60-an

Sajian ini sudah menjadi bagian dari budaya Jepang, sehingga sulit untuk melacak asal-usul dan sejarah perkembangannya.

Natto pada awalnya dianggap sebagai penemuan yang tidak disengaja, kemungkinan besar setelah kedelai dimasak, kemudian ditinggalkan di lingkungan yang hangat.

Secara komersial, natto diperjualbelikan sejak tahun 1800-an. Hingga kemudian, jarang sekali penduduk setempat yang membuatnya di rumah.

Rasa, Tekstur, dan Aroma Natto

Natto memiliki rasa seperti makanan fermentasi lainnya, namun lebih ringan. Natto juga memiliki rasa sedikit pahit. Tetapi, bukan rasanya yang membuat sebagian orang tidak bisa makan natto, melainkan aroma dari makanan ini.

Baca Juga: 5 Akibat Buruk Memasukkan Makanan Panas ke Dalam Kulkas

Natto memiliki bau yang cukup tajam. Konon, cita rasanya mirip dengan blue cheese, karena sama-sama memiliki aroma yang tak sedap.

Jika tidak tahan dengan aroma blue cheese, maka hidangan Jepang ini akan menimbulkan masalah bagi Anda.

Aroma yang muncul itu bukan pertanda natto basi. Meski beraroma tak sedap, natto cukup aman dikonsumsi, karena merupakan hasil dari fermentasi bakteri.

Natto dibuat dengan teknik perendaman dan pemasakan kedelai. Setelah itu, kedelai difermentasikan di lingkungan yang hangat dengan jenis bakteri tertentu selama 24 jam. Kacang kedelai yang sudah matang itu didiamkan hingga teksturnya menjadi lengket dan berserat.

 

Penulis : Dian Septina Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU