> >

UEA Ancam Batalkan Pembelian Jet AS Senilai 23 Miliar Dolar gara-gara Ribut soal China

Kompas dunia | 16 Desember 2021, 00:05 WIB
Ilustrasi. Jet tempur F-35 yang hendak dibeli Uni Emirat Arab dari Amerika Serikat. Foto diambil pada 19 September 2019. (Sumber: Wilson Ring/Associated Press)

ABU DHABI, KOMPAS.TV - Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mengancam Amerika Serikat (AS) akan membatalkan pembelian jet tempur senilai 23 miliar dolar AS dari negara itu. Hal tersebut dilaporkan Wall Street Journal sebagaimana dilansir The Eurasian News, Rabu (15/12/2021).

Abu Dhabi dilaporkan sedang dalam proses pembelian jet tempur F-35 dan drone dari pemerintah AS. Pembelian ini disepakati ketika Washington masih dipimpin Donald Trump.

Akan tetapi, seiring meningkatnya pengaruh China di UEA dan kekhawatiran AS soal itu, Abu Dhabi dilaporkan mengancam membatalkannya.

Washington sendiri dilaporkan keberatan atas pengaruh Beijing di Abu Dhabi. Pihak AS mempertanyakan apakah jet tempurnya nanti akan aman dari mata-mata China.

Pemerintahan Joe Biden sendiri dilaporkan masih yakin pembelian ini masih bisa selesai. Apabila Abu Dhabi masih kukuh mempertahankan hubungan baik dengan China, Washington disebut mempertimbangkan opsi mengganti F-35 dengan jet lain yang kurang canggih.

Baca Juga: Nobatkan Pejabat Kontroversial UEA sebagai Presiden, Interpol Tuai Protes

Pada awal Desember lalu, UEA sepakat membeli 80 unit jet tempur Rafale dari Prancis. Banyak kalangan menduga pembelian tersebut untuk mengantisipasi batalnya perjanjian dengan AS.

Akan tetapi, Angkatan Udara UEA membantahnya. Pejabat militer UEA menyebut pembelian Rafale dilakukan untuk “melengkapi” pembelian F-35.

“Kesepakatan ini bukanlah pengganti pembelian F-35 yang akan datang. Ini dipandang sebagai kesepakatan pelengkap seiring upaya kami meningkatkan kapabilitas angkatan udara,” kata Komandan AU UEA Mayjen Ibrahim Nasser Al-Alawi dikutip The Eurasian News.

UEA dan China sendiri selama ini menjalin kerja sama yang membuat AS keberatan. Salah satunya dalam pengembangan teknologi 5G.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Vyara-Lestari

Sumber : The Eurasian News


TERBARU