> >

Tentang Gunung Berapi Bawah Laut Hunga Tonga-Hunga Ha'apai, Letusannya Sebabkan Tsunami

Kompas dunia | 16 Januari 2022, 20:59 WIB
Foto satelit erupsi gunung bawah laut yang menyebabkan tsunami di Tonga. Gambar oleh satelit Himawari-8 milik Jepang ini diambil pada 15 Januari 2022. (Sumber: Institut Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional Jepang via Associated Press)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai, Tonga meletus dua kali pada letusan pertama Jumat (14/1/2022) kemarin.

Gunung berapi bawah laut itu kembali meletus pada Sabtu (15/1) pukul 17.26 waktu setempat dan kali ini ternyata memicu peringatan tsunami.

Peringatan tsunami tercatat di Hawaii, Jepang, hingga pulau terbesar Tonga, Tongatapu. Letusan kedua yang besar itu membumbungkan gumpalan abu, gas, dan uap setinggi 20 kilometer ke udara.

Sabtu malam abu mulai turun dan menutupi langit Ibu Kota Tonga, Nuku'alofa. Letusan kedua ini dilaporkan menyebabkan terjadinya tsunami di Tongatapu.

Baca Juga: Penampakan Erupsi Gunung Bawah Laut di Tonga dari Luar Angkasa

Profesor Emeritus Richard Arculus dari Australian National University mengungkapkan Gunung Hunga Tonga-Hunga Ha'apai merupakan gunung berapi yang diklasifikasikan sebagai gunung berapi bawah laut.

Gunung itu terletak di antara dua daratan yakni Hunga Tonga dan Hunga Ha'apai yang memiliki lubang atau kawah di atas air.

Melansir dari ABC, Minggu (16/1) Arculus mengatakan gunung tersebut aktif dalam 15 tahun terakhir. Pada letusan 2015 silam, abu yang dikeluarkan gunung tersebut memaksa maskapai penerbangan masuk dan keluar Tonga.

Baca Juga: Erupsi Gunung Api Bawah Laut Tonga Tak Timbulkan Tsunami di Wilayah Indonesia

Gunung tersebut tercatat pernah meletus pada 1912, 1937, 1988, 2009, dan 2015. Para ilmuwan memperkirakan massa daratan yang terbentuk dari letusan pada 2015 akan bertahan lama.

Pasalnya lanskap daratan telah terkikis dan berubah selama beberapa tahun terakhir. Aktivitas gunung yang masih berlanjut selama rentang waktu minggu hingga bulanan.

Meski demikian, Arculus menyatakan sulit memprediksi kapan ledakan kuat lainnya akan terjadi kembali.

"Ini mungkin belum berakhir," katanya.

Ahli Meteorologi Senior Biro Meteorologi Australia Grace Legge menyatakan situasi gunung tersebut dalam berbahaya dan kemungkinan akan berubah.

Menurutnya, letusan gunung bawah laut jauh lebih sulit diprediksi daripada pola cuaca atmosfer atau gempa bumi.

Penulis : Danang Suryo Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU