> >

China Bangun Jembatan di Perbatasan Sengketa, India Waspada

Kompas dunia | 26 Januari 2022, 19:59 WIB
Foto Danau Pangong, wilayah yang termasuk perbatasan sengketa China dan India. Foto diambil pada September 2011. Pada Januari 2022, China dilaporkan membangun jembatan di danau tersebut. Pemerintah India menyebutnya ilegal. (Sumber: KennyOMG via Wikimedia)

NEW DELHI, KOMPAS.TV - China dilaporkan sedang membangun jembatan di Danau Pangong, area yang menjadi bagian sengketa perbatasan negara itu dengan India.

Sebagaimana diwartakan Al Jazeera, Selasa (25/1/2022), konstruksi itu terletak di perbatasan daerah Ladakh, negara bagian Kashmir, India.

Jembatan itu rencananya akan berdiri sepanjang 400 meter dengan lebar delapan meter. Citra satelit menunjukkan fasilitas tersebut sudah mulai dibangun.

Jembatan ini dibangun dekat Garis Batas Aktual (LAC), perbatasan de facto China-India yang disengketakan selama berdekade-dekade. 

Pihak India menegaskan bahwa pembangunan jembatan China ilegal. New Delhi mengaku akan “memonitor” kegiatan konstruksi tersebut.

“Pemerintah telah menjalankan semua langkah yang dibutuhkan untuk memastikan kepentingan keamanan kami sepenuhnya terlindungi,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Arindam Bagchi.

Baca Juga: Hina Gandhi dan Justru Puji Pembunuhnya, Pemimpin Hindu India Ditangkap Polisi

Eskalasi di perbatasan Ladakh sendiri meningkat sejak 2020 lalu. Militer masing-masing pihak saling tuduh memasuki wilayah tanpa izin.

Pada Juni 2020, situasi memanas dan terjadi bentrok mematikan yang menewaskan 20 tentara India dan empat tentara China. 

Kedua pihak mengaku tentara tidak menggunakan senjata api, melainkan berkelahi dengan batu dan pentungan.

Insiden itu memicu mobilisasi tentara di kedua belah pihak. Diplomat pun berkali-kali terlibat negosiasi, tetapi tidak membuahkan kesepakatan berarti.

Baik China atau India juga menggencarkan konstruksi infrastruktur militer. Pembangunan jembatan China adalah salah satu yang terkini.

Ajai Shukla, pakar keamanan asal New Delhi, menyebut pembangunan jembatan di Pangong adalah “perkara besar” bagi India. Menurutnya, China bisa memanfaatkan fasilitas itu untuk menerjunkan pasukan dengan cepat.

“China sangat bagus dalam membangun infrastruktur di area perbatasan dan ini hanyalah salah satu contohnya,” kata Shukla.

Baca Juga: Serangan Mendadak Terbesar 2022! 39 Pesawat Tempur Diterbangkan ke Taiwan, China Masih Bungkam

Sebaliknya, Shukla menyebut India tergolong lambat dalam merespons kebutuhan infrastruktur di perbatasan.

“Ketiadaan jalan atau trek atau infrastrukur yang bisa dilalui kendaraan semacam itu berarti India dapat menerjunkan (pasukan) jauh lebih lambat dibanding China, maka dari itu, China punya keunggulan,” lanjutnya.

Sengketa perbatasan China dengan India berlangsung sejak perang pada 1962. Sejak itu, dua jiran ini tak kunjung menyepakati perbatasan sepanjang 3.488 kilometer yang memisahkan teritori mereka.

Kendati demikian, mantan pejabat militer India yang btertugas di Kashmir menyebut wilayah yang dibangun jembatan sudah dikuasai China sebelum perang.

“Mereka mengamankan area ini pada 1959. LAC itu sekitar 25 kilometer dari jembatan tersebut,” kata pensiunan pejabat yang minta identitasnya dirahasiakan itu kepada Al Jazeera.

Di lain sisi, Beijing menuduh India terlalu khawatir atas pembangunan jembatan. Pemerintah China mengaku jembatan di Pangong bukanlah untuk keperluan militer.

Akan tetapi, Pravin Sawhney, pakar pertahanan dari India, tak sepakat dengan China.

Menurutnya, pembangunan jembatan itu adalah bagian dari “operasi zona abu-abu” China dan menghadirkan ancaman perang.

“Sembari menunjukkan ancaman perang, mereka akan lanjut melakukan operasi zona abu-abu yang mana mereka lakukan dengan pembangunan jembatan itu. Ancaman militer mereka secara kesuluruhan akan terus meningkat, tidak akan menurun,” kata Sawhney.

“Saya pikir kita mestinya tak bisa tidur. Jembatan itu dan tentara yang ada adalah urusan besar,” lanjutnya.

Baca Juga: Hanya 20,6 Persen Warga Jepang yang Merasa Bersahabat dengan China


 

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Al Jazeera


TERBARU