> >

KTT G7 di Jerman: Forum Negara Maju, Mengapa Indonesia Diundang?

Kompas dunia | 27 Juni 2022, 10:25 WIB
Pertemuan G7 digelar di Kastil Elmau, sebuah hotel mewah kuno dengan latar sejarah kelam dan masa lalu yang penuh gejolak. (Sumber: Time)

Awalnya, forum tersebut bernama G6, dengan enam negara anggota yang bertemu di Kastil Rambouillet, Prancis pada 1975.

Saat itu, mereka membahas ancaman resesi akibat kenaikan harga minyak yang pasokannya dibatasi oleh negara-negara penghasil minyak (OPEC). 

Kanada baru bergabung pada tahun 1976, sehingga nama forum ini berubah menjadi G7. 

Kemudian, tahun 1998 Rusia sempat bergabung, sehingga nama forum ini menjadi G8, namun negara itu keluar setelah menginvasi Krimea pada 2014.

Baca Juga: Jokowi Hadiri Forum G7, Berikut Rincian Agendanya Hari Ini

Lantas, mengapa tahun ini Indonesia diundang dalam forum tersebut?

Forum ini rupanya tak lepas dari kritik kelompok masyarakat sipil karena dinilai memperbesar kesenjangan antara negara maju dengan negara berkembang.

Meskipun G7 hanya mewakili sepuluh persen populasi dunia, kelompok ini menguasai 45 persen perekonomian global.

Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir, G7 mengundang wakil-wakil negara berkembang untuk hadir dan bersuara.

Tahun ini, Jerman selaku negara Presiden G7 mengundang empat negara untuk hadir, yaitu Indonesia sebagai Presiden G20, Afrika Selatan, Argentina, India, dan Senegal mewakili suara negara-negara berkembang. Selain itu, Uni Eropa juga selalu diundang sebagai pengamat.

Tema-tema pembicaraan biasanya disiapkan oleh negara presidensi. Ada tema umum yang selalu menjadi pembahasan, yakni situasi keuangan dan perekonomian global.

Beberapa tahun terkahir G7 juga membahas situasi keamanan, migrasi dan perubahan iklim. Tahun ini, perang di Ukraina dan masalah pangan menjadi sorotan. 

Pertemuan ini tak lepas dari protes kelompok-kelompok masyarakat sipil yang menuntut agar negara-negara kaya tidak hanya memberi bantuan kepada negara-negara minskin, namun juga mengatasi kesenjangan dan memerangi penyebab ketimpangan itu demi membentuk dunia yang lebih adil. 

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV, DW


TERBARU