> >

Buntut Eskalasi Serbia-Kosovo, Pakar: Balkan Masih Terancam Perang, tetapi Diplomasi Bisa Diharapkan

Kompas dunia | 2 Agustus 2022, 13:01 WIB
Ilustrasi. Menteri Luar Negeri Serbia Nikola Selakovic saat menghadiri konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Siprus Ioannis Kasoulides di Nikosia, 1 Agustus 2022. Pakar asal Rusia, Andrey Kortunov menyebut Balkan masih terancam perang menyusul eskalasi Serbia-Kosovo, tetapi masih bisa diselesaikan melalui diplomasi. (Sumber: Petros Karadjias/Associated Press)

MOSKOW, KOMPAS.TV - Risiko konflik militer dari tensi Serbia-Kosovo menyusul kerusuhan etnis Serb di Kosovo masih ada. Namun, manuver diplomatik dinilai masih berpeluang meredakan ketegangan dan memperbaiki hubungan kedua negara.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dewan Urusan Internasional Rusia Andrey Kortunov, Senin (1/8/2022). 

Eskalasi Serbia-Kosovo memanas menyusul rencana Pristina mewajibkan plat nomor dan kartu identitas Kosovo bagi etnis Serb yang masuk dari Serbia. Warga yang hanya membawa plat nomor dan kartu identitas Serbia akan dilarang masuk.

Kebijakan itu sedianya akan diberlakukan pada 1 Agustus 2022. Namun, etnis Serb di Kosovo membangkang dan membuat kerusuhan, memblokade jalanan, membunyikan sirene, serta membuat rentetan tembakan peringatan.

Menyusul kerusuhan tersebut, berkat lobi internasional, Pristina memutuskan untuk menunda pemberlakuan kebijakan itu hingga 1 September mendatang.

Baca Juga: Serbia-Kosovo Memanas! Dipicu Kebijakan Plat Nomor dan Kartu Identitas Etnis Serb

Kortunov menilai keputusan itu sekadar menunda krisis, tidak menyelesaikannya. Ia pun menawarkan roadmap intergasi Serbia dan Kosovo ke Uni Eropa sebagai salah satu solusi menyelesaikan krisis.

“Untuk sekarang, terlalu awal untuk mengatakan bahwa krisis (Serbia-Kosovo) telah selesai. Ini hanya sekadar penundaan, dan bukan suatu perubahan funddamental di posisi Pristina,” kata Kortunov kepada TASS.

“Sangat penting untuk menggunakan kesempatan ini untuk meningkatkan upaya diplomatis demi menyelesaikan krisis ini. Ancaman (konflik militer) masih ada di sana,” imbuhnya.

Meskipun menganggap integrasi kedua negara ke Uni Eropa sebagai solusi, Kortunov menggarisbawahi kecenderungan organisasi antarpemerintahan itu yang membiarkan sejumlah negara-negara dalam daftar tunggu selama berdekade-dekade.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV/TASS


TERBARU