> >

Terancam Gagal Masuk NATO, Swedia: Demo Bakar Quran Ditunggangi Kepentingan Asing

Kompas dunia | 1 Februari 2023, 18:10 WIB
Ilustrasi. Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengutuk pelaku demonstrasi bakar Al-Qur'an dan penggantung boneka Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Stockholm beberapa waktu lalu. Hal tersebut disampaikan Kristersson usai Swedia dikecam berbagai pihak sehubungan beberapa demonstrasi di Stockholm belakangan ini. (Sumber: AP Photo)

STOCKHOLM, KOMPAS.TV - Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengutuk pelaku demonstrasi bakar Al-Qur'an dan penggantung boneka Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Stockholm beberapa waktu lalu. Hal tersebut disampaikan Kristersson usai Swedia dikecam berbagai pihak sehubungan beberapa demonstrasi di Stockholm belakangan ini.

Kristersson menuduh aktivis yang membakar Al-Qur'an dan menggantung boneka Erdogan di negaranya sebagai "idiot yang berguna" bagi "kekuatan asing" yang ingin Swedia dijerat masalah.

Pada Januari lalu, serangkaian demonstrasi bakar Al-Qur'an dan anti-Turki, khususnya ketika aktivis menggantung boneka Erdogan, dikecam Ankara. Otoritas Turki bahkan mengaku tidak akan menyetujui aksesi Swedia ke NATO menyusul demonstrasi-demonstrasi tersebut.

Baca Juga: Kelompok Lintas Agama dan Masyarakat Swedia Kutuk Pembakaran Al-Qur'an oleh Politisi Denmark

Tidak hanya di Turki, sederet aksi anti-Swedia digelar di negara-negara dengan populasi mayoritas Muslim, mengecam demo bakar Al-Qur'an oleh politikus ekstrem kanan Swedia-Denmark, Rasmus Paludan yang dilindungi Swedia.

"Kita telah melihat bagaimana aktor-aktor asing, bahkan aktor kiriman negara lain, menggunakan manifestasi-manifestasi ini untuk memanaskan situasi yang secara langsung merusak keamanan Swedia," kata Kristersson dikutip Associated Press, Selasa (30/1/2023).

Akan tetapi, Kristersson tidak merinci negara mana yang dituduhnya ingin merusak keamanan dalam negeri Swedia. Respons internasional terhadap serangkaian demonstrasi yang diizinkan Stockholm membuat sang PM mesti mengumpulkan faksi-faksi parlemen Swedia untuk membahas situasi keamanan terkini.

Pejabat-pejabat Stockholm selalu menyampaikan bahwa mereka tidak mendukung aksi-aksi yang digelar Paludan dan lain-lain. Namun, pejabat Swedia mengaku mengizinkan demonstrasi karena melindungi kebebasan berekspresi.

"Kelompok-kelompok dan individu yang melangsungkan aksi semacam ini, ketika situasi keamanan sedang seperti ini, telah menjadi idiot yang berguna bagi mereka yang ingin merusak Swedia," kata Kristersson.

Baca Juga: Sebut Swedia Problematik, Menlu Turki Mengaku Bisa Loloskan Aksesi Finlandia ke NATO

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Purwanto

Sumber : Associated Press


TERBARU