> >

Kawasan Utara Indonesia Berpotensi Bergejolak Usai Filipina Izinkan Militer AS di 4 Pangkalan

Kompas dunia | 3 Februari 2023, 09:11 WIB
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin (kiri) bersalaman dengan Menhan Filipina Carlito Galvez Jr jelang pengumuman kerja sama pertahanan AS dengan Filipina di Camp Aguinaldo di Metro Manila, Filipina, Kamis (2/2/2023). (Sumber: Kompas.id/The Associated Press)

MANILA, KOMPAS.TV - Kawasan utara negara Indonesia berpotensi bergejolak setelah Filipina menyetujui kerja sama dengan Amerika Serikat (AS) untuk mengakses empat pangkalan militer di negara itu.

Dilansir dari Kompas.id, akses militer AS di empat pangkalan di Filipina tersebut akan memberikan peluang mereka berhadapan langsung dengan militer Tiongkok yang secara aktif hadir di Laut China Selatan. 

Berdasarkan kesepakatan antara Filipina dengan AS itu, jumlah lokasi pangkalan untuk militer AS masih akan bertambah.

Pengumuman kesepakatan kehadiran militer AS di Filipina itu disampaikan Menteri Pertahanan (Menhan) AS Lloyd Austin dalam konferensi pers bersama Menhan Filipina Carlito Galvez di Manila, Filipina, Kamis (2/2/2023). 

"Kami dengan senang hati mengumumkan hari ini bahwa Presiden Marcos (Ferdinand Marcos Jr) telah menyetujui empat lokasi baru dan itu menjadikan jumlah total situs EDCA menjadi sembilan," kata Austin, Kamis (2/2).

EDCA atau Enhanced Defense Cooperation Agreement 2014 merupakan kesepakatan kerja sama pertahanan Filipina dan AS yang mengizinkan militer Negeri Paman Sam memiliki akses ke berbagai pangkalan militer Filipina.

Baca Juga: Kisah China dan AS Bersaing Tanamkan Pengaruh di Indonesia, Beijing Unggul tapi AS pun Tak Menang

Militer AS bisa melakukan pelatihan bersama, pra-penempatan peralatan hingga pembangunan fasilitas, seperti landasan pacu, penyimpanan bahan bakar, dan perumahan militer.

Austin bahkan terang-terangan menyatakan kesepakatan kerja sama pertahanan pihaknya dengan Filipina adalah upaya kedua negara meredam destabilisasi di perairan sekitar negara ASEAN itu, termasuk di Laut Filipina Barat, yang dilakukan oleh Pemerintah China.

“Itu hanya bagian dari upaya kami memodernisasi aliansi. Dan upaya ini sangat penting karena China terus mengajukan klaim tidak sahnya di Laut Filipina Barat,” ujar Austin.

Menurut pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjajaran Teuku Rezasyah, adanya kesepakatan tersebut membuat siatuasi di kawasan menjadi lebih rumit dan semakin tegang.

Penulis : Nadia Intan Fajarlie Editor : Desy-Afrianti

Sumber : Kompas.id


TERBARU