> >

Pengadilan Belanda Vonis Penjara Seumur Hidup Ridouan Taghi, Bos Narkoba yang Ditakuti

Kompas dunia | 28 Februari 2024, 06:05 WIB
Bos mafia narkoba Belanda, Ridouan Taghi, dan 16 rekannya dinyatakan bersalah atas enam pembunuhan dalam peradilan massal bernama Marengo di Belanda, Senin (26/2/2024). (Sumber: The Publive)

AMSTERDAM, KOMPAS.TV - Bos mafia narkoba Belanda, Ridouan Taghi, dan 16 rekannya dinyatakan bersalah atas enam pembunuhan dalam peradilan massal bernama Marengo di Belanda pada Senin (26/2/2024).

Taghi dibebaskan dari salah satu pembunuhan pada Selasa (27/2), tetapi dijatuhi hukuman seumur hidup untuk yang lainnya, mengakhiri kasus yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Sejak ditangkap di Dubai tahun 2019 dan kemudian diekstradisi, Taghi yang kini berusia 46 tahun ditahan di tahanan keamanan maksimum di Belanda.

Diadakan di pengadilan Amsterdam yang dikenal sebagai De Bunker, dengan adanya patroli drone dan pasukan komando, peradilan ini menandai sejarah kriminal Belanda yang pertama, dimana semua yang terlibat dalam persidangan, mulai dari penegak hukum hingga tim forensik, dijaga secara anonim.

Ini juga merupakan peradilan terbesar sepanjang sejarah Belanda.

Taghi, bersama dengan pengedar narkoba dari Irlandia, Italia, dan Bosnia, dianggap sebagai "super-kartel," mengarahkan pengiriman kokain ke Eropa.

Dia juga disalahkan atas serangkaian pembunuhan berprofil tinggi, termasuk jurnalis kriminal terkemuka negara itu, Peter R de Vries, yang mengguncang masyarakat dan membuat beberapa pengamat menyebut Belanda sebagai "negara narko."

Baca Juga: Polisi Italia Ungkap Perdagangan Narkoba di Salon, Gegara Pelanggannya Botak dan Tak Berjenggot

Polisi khusus Belanda menjaga persidangan ketat Ridouan Taghi, Senin, (26/2/2024) dalam persidangan terbesar dengan kode Morengo. (Sumber: Al Jazeera)

Tempat Aman untuk Kejahatan Terorganisir

Pada tahun 1970-an, Chinatown Amsterdam menjadi pusat penyebaran heroin dari Asia Tenggara, hingga perang geng membetot perhatian polisi pada operasi mereka.

Kokain muncul tahun 1980-an di kapal dari Amerika Selatan. Sebagai pelabuhan laut terbesar di Eropa, Rotterdam menjadi tempat pendaratan utama, dengan volume kargo yang tidak mungkin disaring sepenuhnya.

Sejak tahun 1990-an, Belanda juga menjadi produsen utama MDMA, narkoba untuk pesta.

"Kami memiliki infrastruktur logistik yang hebat; kami memiliki jangkauan global karena pelabuhan Rotterdam, pelabuhan Amsterdam, dan tentu saja, Bandara Schiphol," kata kriminolog Yarin Eski dari Universitas Vrije (VU) di Amsterdam.

"Kami memiliki masyarakat yang sangat beragam dengan koneksi ke seluruh dunia melalui keluarga, teman, dan lainnya, dan kami juga memiliki infrastruktur keuangan yang sangat baik yang membuatnya relatif mudah untuk mengembalikan uang narkoba ke dalam ekonomi legal. Semua itu menciptakan tanah subur yang sempurna bagi Belanda untuk menjadi tempat aman bagi kejahatan terorganisir." ungkap Eski.

Sebelum Taghi, baron narkoba terkenal Belanda adalah Klaas Bruinsma.

Selalu mengenakan setelan hitam dan memberikan kuliah kepada anak buahnya tentang pentingnya diet sehat membuatnya dijuluki "Sang Pengkhotbah."

Tahun 1980-an, ia berinvestasi di Distrik Lampu Merah Amsterdam untuk mencuci uangnya dan menyimpan foto-foto perwira polisi tinggi dalam situasi memalukan.

Bruinsma terlibat dalam pembunuhan pengawalnya sendiri, petinju Andre "Bulldog" Brilleman, yang diduga menipunya. Brilleman dipukuli dengan bola keras, ditembak di kepala, dimutilasi, dibungkus dalam beton, lalu dibuang di sungai.

Pada tahun 1991, Bruinsma ditembak mati oleh seorang polisi yang beralih menjadi pembunuh bayaran yang disewa oleh sekelompok penjahat kejam dari kelompok mafia Yugoslavia.

Baca Juga: Operasi Antinarkoba, Polisi Belgia Gerebek Apartemen di Brussels, Kaget Temukan Ini

Bos mafia narkoba Belanda, Ridouan Taghi. (Sumber: Telegraph)

Siapa Taghi, dan Apa yang Dia Lakukan?

Taghi adalah pemimpin dari yang disebut "Mocro-Maffia" atau mafia Maroko, sebuah sebutan keliru karena para penjahat juga termasuk orang Chile, Belanda-Antillen, dan bahkan Polandia.

Penulis : Edwin Shri Bimo Editor : Gading-Persada

Sumber : Al Jazeera


TERBARU