> >

Bom Bunuh Diri di Gereja Katedral Makassar: Tragedi Minggu Palma

Opini | 28 Maret 2021, 17:45 WIB
Ilustrasi Minggu Palma (Sumber: The Church of the Epiphany)

Akan tetapi, mengapa terorisme bunuh diri terjadi di Indonesia?

Sejumlah bom bunuh diri terjadi di Indonesia: Bom Bali I (2002) dan II (2005), Bom JW Marriot (2003), Bom Kedubes Australia (2004), Bom Masjid Az-Dzikra Cirebon (2011), Bom Sarinah (2016), Bom Mapolresta Solo (2016) dan Bom Kampung Melayu (2017).

Aksi-aksi bom bunuh diri tersebut dilakukan oleh pelaku pria baik sendiri maupun berkelompok. Dan yang lebih perlu mendapat perhatian adalah muncul pola baru di negeri ini: dilakukan oleh satu keluarga.

Apa yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu adalah sebuah fenomena baru: serangan bom bunuh diri dilakukan oleh sebuah keluarga. Pola Surabaya itu ditiru—meski belum terlaksana oleh pelaku bom bunuh diri di Medan; istri berencana menyerang Bali.

Ini membuktikan bahwa teroris mampu meradikalisasi seluruh anggota keluarga. Sungguh sangat membahayakan. Terorisme masuk keluarga.

Pelibatan perempuan dalam aksi teror dilakukan karena perempuan cenderung tidak dicurigai ataupun diperiksa secara teliti oleh aparat ketika memasuki sasaran. Sementara, pelibatan anak-anak merupakan suatu cara untuk memanipulasi karena orangtua yang membawa anak lebih jarang diperiksa oleh aparat keamanan.

Sebagai sebuah taktik teror, serangan bom bunuh diri merupakan salah satu serangan yang paling mematikan dan mengerikan.

Secara strategis serangan bom bunuh diri merupakan cara yang relatif murah dan efektif untuk mengacaukan situasi politik, ekonomi dan militer suatu wilayah dan telah menjadi salah satu ancaman utama bagi upaya pemeliharaan perdamaian dan perdamaian.

Dan, kalau serangan berhasil, maka  sulit dilacak. Sebab, pelaku tewas dalam serangan itu dan tidak seperti dalam aksi teror lainnya tidak memerlukan sumber daya atau risiko yang didedikasikan untuk rencana pelarian, dan begitu terbunuh ia tidak dapat ditangkap dan diinterogasi kemudian mengungkapkan siapa yang mengirimnya.

Karena itu, terorisme bunuh diri sungguh sangat membahayakan; membahayakan bagi persatuan dan kesatuan bangsa; dan kemanusiaan.

Kini menjadi tugas aparat untuk mengungkap tuntas aktor-aktor yang terlibat dalam aksi keji ini. Kepolisian juga perlu meningkatkan keamanan di tempat-tempat ibadah sehingga masyarakat bisa semakin tenang dan khusyuk dalam beribadah. Dan, persaudaraan bangsa ini tak mampu dipecah-belah oleh kekuatan kegelapan.

* * *

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Eddward-S-Kennedy

Sumber : Kompas TV


TERBARU