> >

Akar Masalah Jagung yang Jadi Momok Bagi Peternak Ayam Petelur

Ekonomi | 29 September 2021, 09:06 WIB
Petani menjemur jagung di Desa Toabo, Mamuju, Sulawesi Barat, Jumat (30/7/2021). (Sumber: Kompas.tv/Ant)

Selain tidak sinkron dengan data produksi, fluktuasi harga jagung menyulitkan peternak dan pelaku industri pakan untuk merencanakan strategi bisnis.

Di samping itu, data surplus yang semu terbukti berulang mengacaukan industri pakan dan perunggasan nasional. Alih-alih berpacu untuk mengefisienkan produksi, para peternak harus berulang mengorbankan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk mencari jagung atau memprotes pemerintah.

Sebenarnya, dalam beberapa kesempatan, tuntutan yang disampaikan peternak sebenarnya sederhana, yakni sediakan jagung dalam jumlah dan harga yang terjangkau.

Mereka menilai data produksi yang menjadi dasar bagi pemerintah untuk menetapkan kebijakan mesti akurat. Keputusan untuk menghentikan impor, misalnya, mesti ditopang produksi yang kokoh di dalam negeri.

Oleh karena itu, rencana pemerintah mengevaluasi dan menyusun ulang metode penghitungan data produksi jagung mesti segera diselesaikan dan diumumkan kepada publik. Perubahan metode penghitungan produksi bisa jadi contoh yang baik. Dengan demikian, peternak bisa lepas dari belenggu problem jagung.

Diketahui, harga jagung memang sempat berangsur turun dari kisaran Rp 6.000-6.300 per kilogram pada pertengahan September menjadi Rp 5.300 per kg pada pekan ketiga September 2021.

Akan tetapi, persolan belum selesasi dengan penurunan harga tersebut. Sebab, risiko serupa masih rentan terjadi, terutama karena ketiadaan data atau neraca jagung yang akurat dan terkini.

Baca Juga: Harga Telur Terus Anjlok, Peternak Ayam di Blitar Bagikan 1,5 Ton Telur Cuma-cuma

 

Penulis : Fransisca Natalia Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV/Kompas.id


TERBARU