> >

Postingan Mas Mar...

Opini | 15 Februari 2022, 10:13 WIB
Ilustrasi (Sumber: Istimewa)

Benar jadinya pernyataan Presiden Jokowi pada Hari Pers Nasional yang baru lalu, bahwa banyak sumber informasi alternatif yang mengejar klik atau viewers, mengejar viral, yang menyesatkan bahkan adu domba, sehingga menimbulkan kebingungan dan bahkan perpecahan. Pernyataan Presiden itu, memang tidak berkait langsung pada kasus Wadas, tetapi itulah yang umumnya terjadi sekarang ini.

Akurasi fakta adalah problem utama media sosial (juga media arus utama)—sebagaimana banyak dibincangkan secara akademis. Tetapi, media sosial (mungkin juga media arus utama?) justru kini menjadi kanal rasa frustasi sebagian orang. Juga menjadi sarana untuk melampiaskan sikap oposisi terhadap pemerintah dalam segala hal; menyampaikan pendapat yang “pokoknya” berbeda.

Memang, kemampuan untuk memelintir kebenaran merupakan fenomena yang melekat pada kemanusiaan kita, baik pribadi maupun masyarakat. Tetapi, apakah fenomena semacam itu akan dibiarkan menjadi liar? Bila dibiarkan tak pelak lagi akan menimbulkan perpecahan sosial, menciptakan spiral kebencian.

Yang kita butuhkan sekarang ini—terutama untuk menyelesaikan krisis Wadas, dan mungkin krisis-krisis sosial lainnya—adalah jurnalisme yang baik dan bebas yang melayani semua orang, terutama mereka yang tidak mampu menyampaikan aspirasinya: jurnalisme yang didedikasikan untuk mencari kebenaran dan yang membuka jalan menuju persekutuan dan perdamaian.

Media semestinya menjadi penangkal mulai dari misinformasi yang berbahaya hingga teori konspirasi liar. Tugas pers, media adalah  menyampaikan berita dan analisis yang diverifikasi, ilmiah, dan berdasarkan fakta.

Saya akan mengakiri unek-unek ini—sekaligus melanjutkan postingan Mas Mar—dengan mengutip pendapat Paus Fransiskus (2018) tentang jurnalisme perdamaian, yang semestinya sekarang ini diwujudkan bersama-sama, oleh siapa saja yang secara pribadi, amatiran atau professional, menyebarkan informasi. Kata Paus, jurnalisme perdamaian tidak dimaksudkan sebagai jurnalisme “pemanis rasa” yang menolak mengakui adanya masalah-masalah serius atau jurnalisme yang bernada sentimentalisme. Sebaliknya, jurnalisme perdamaian adalah suatu jurnalisme yang jujur dan menentang kepalsuan, slogan-slogan retoris, dan pokok berita yang sensasional.

Jurnalisme perdamaian, diciptakan oleh masyarakat untuk masyarakat, yang melayani semua orang, terutama mereka—dan mereka adalah mayoritas di tengah dunia kita—mereka yang tidak bersuara. Sebuah jurnalisme yang tidak terpusat pada breaking news (berita sela) tetapi menelisik sebab-sebab yang mendasari konflik, guna memajukan pemahaman yang lebih mendalam dan memberi sumbangan bagi jalan keluar dengan memulai suatu proses yang baik. Sebuah jurnalisme yang berkomitmen untuk menunjukkan beragam alternatif penyelesaian terhadap meningkatnya keributan dan kekerasan verbal.

Jadi, tugas suci media, semestinya adalah ramai-ramai mendorong dan mengusahakan penyelesaian damai, adil, dan berkemanusiaan terhadap krisis Wadas. Tidak diem, seperti kata Mas Mar. ***

Sumbertriaskun.id

Penulis : Desy-Afrianti

Sumber : Triaskun.id


TERBARU