> >

Seabad Rosihan Anwar (1922-2022): Wartawan yang Tidak Bisa Dikalahkan

Opini | 8 Mei 2022, 11:53 WIB
Rosihan Anwar dan istri, Zuraida Sanawi. (Sumber: Istimewa)

Sebagai wartawan, Rosihan dikenal garang, tapi sebagai suami ia terbilang lelaki penurut. Beberapa peristiwa penting dalam hidupnya ditentukan oleh kendali Zuraida.

Ambil contoh pada 1970 ketika Rosihan ditawari jabatan duta besar Indonesia untuk Vietnam oleh Presiden Soeharto. Begitu tahu, Zuraida langsung bilang tidak. Rosihan tak bisa membantah. 

Ia pun mengirim surat penolakan kepada Presiden Soeharto.

“Mau bilang apa lagi, putusan ibu seperti itu,” ujar Pak Ros.

Gegara mematuhi istri, Pak Harto kabarnya sempat memendam rasa kecewa kepada Pak Ros. Itu diungkap Ibu Tien kepada Pak Ros dalam suatu kesempatan.

Malah, santer jadi bahan pembicaraan di kalangan terbatas wartawan, penolakan tersebut diramalkan peluang wartawan jadi duta besar akan tertutup. Syukurlah itu tidak terbukti.

Di masa tua, perhatian Pak Ros terhadap Ibu Zuraida maupun sebaliknya menakjubkan, tidak usang ditelan waktu. Kerika Ibu Zuraida dirawat karena sesuatu penyakit, Rosihan menangis sesenggukan.

Saya tahu karena Pak Ros secara khusus menelepon saya menginformasikan keadaan menghawatirkan Ibu Zuraida yang sedang opname di Metropolitan Medical Center (MMC). Mereka adalah belahan jiwa (soulmate) satu sama lain.

Di hari wafat Ibu Zuraida, Pak Ros menangis di telepon. Begitu juga ketika saya datang melayat ke rumah duka. Matanya basah ketika memeluk saya.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, di pembaringan, almarhumah Ibu Zuraida seperti hanya tertidur. Wajahnya bersih membersitkan senyum, seakan bahagia karena kembali dengan tenang kepada pemiliknya yang sah, Sang Khalik.

Ibu Zuraida di makamkan di TPU Karet di dalam pemakaman keluarga Pahlawan Nasional Mohammad Husni Thamrin.

Lahir Empat Buku

Tapi Subhanallah, sepeninggal  Ibu Zuraida Pak Ros berhasil merampungkan empat buku, terakhir memoar kisah cinta mereka dengan judul "Belahan Jiwa".

Semasa hidup, Pak Ros menulis sekitar 30 buku. 

Waktu saya besuk di ICU RS MMC, Pak Ros bersemangat sekali menceritakan memoar itu. Bukan keluhan mengenai gangguan jantungnya gegara bergadang untuk merampungkan buku tersebut.

Menulis bagaikan tarikan napas sehari-hari bagi Pak Ros. Setiap minggu, beliau bisa melayani permintaan artikel dari belasan media, daerah, nasional, dan internasional.

Ribuan tulisannya dimuat berbagai media, di daerah, nasional maupun internasional. Belakang hari, menjelang wafat, Pak Ros mengaku produktivitasnya mulai menurun. Sekarang hanya menulis secara rutin di Tabloid C&R, katanya, waktu itu. 

Pak Ros menjadi kolumnis sejak Tabloid C&R berdiri, 24 Agustus 1998, hingga akhir hayatnya. Bahkan, di hari pertama dirawat di ruang ICU RS MMC, 7 Maret 2011, beliau sempat menanyakan apakah tulisannya untuk kolom Halo Selebriti edisi 654/9-16 Maret 2011, sudah sampai di tangan redaksi.

Dan, ia sudah mengisyaratkan itulah tulisan terakhirnya.

Saya masih ingat ceritanya. Sore hari itu rekan Indro “Warkop” kebetulan berada di RS MMC mengantar anaknya. Secara tak sengaja Indro melihat Pak Ros didorong dengan kereta menuju ruang ICU. Indro menelepon saya menanyakan apakah mengetahui Pak Ros masuk RS?

Segera saya minta Indro membantu menghubungkan saya dengan keluarga yang mengantar. Di luar dugaan, Pak Ros sendirilah yang menyambar telepon.

Pertanyaaan pertama, dari mana saya tahu beliau masuk RS? Kedua, apakah tulisannya sudah diterima?

"Tolong umumkan, mulai minggu depan saya absen,” katanya.

Kenapa?

“Karena saya, kan, masuk ICU,” alasannya.

"Jangan khawatir, Pak Ros segera sembuh," sambar saya cepat. 

Informasi mengenai Pak Ros masuk RS saya tulis di Twitter yang segera disambung dengan retweet oleh berbagai pihak, selanjutnya informasi itu berkembang di berbagai media online.

Sejumlah televisi menyiarkan di running text. Keluarga dan pihak RS terkejut karena kurang setengah jam sejak itu, RS MMC diserbu "sejuta umat" insan media. Keluarga sempat cemas, mereka menghubungi saya.

Saya mencoba menenangkan. Itu hal wajar, Pak Ros bukan hanya milik keluarga, bukan hanya milik pers, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia.

RS memang berhak melarang wartawan masuk, tapi keluarga wajib memberi keterangan kepada wartawan, di luar. Begitu nasihat saya pada keluarga. Ada beberapa lama RS melarang Pak Ros dibesuk.

Tapi suatu sore, saya dan rekan Marah Sakti bisa "lolos" membesuk beliau di ruang ICU. Dokter yang memergoki saya memeringatkan supaya jangan lama-lama.

Pak Ros menyahuti dokter, "dia anak saya" menunjuk kami. Sore itu, ia bersemangat sekali menceritakan telah berhasil merampungkan buku kisah Pak Ros dengan almarhum istrinya, Ibu Hj. Zuraida. 

Dari MMC, Pak Ros dirujuk ke RS Medistra untuk menjalani kateter. Dari Medistra kemudian pindah ke RS Harapan Kita. Di sini proses observasi dilakukan.

Saya dan Marah Sakti kembali menjenguk beliau menjelang tindakan bypass

Wajahnya sumringah menyambut. Tak tampak kesan gentar menghadapi operasi bedah jantung yang menurut dokter sendiri adalah pilihan terakhir karena itu amat berisiko dilakukan pada orang seusia Pak Ros.

Rosihan Anwar saat dijenguk mantan Presiden BJ Habibie (Sumber: Istimewa)

Sumbangannya kepada Dunia Kedokteran

Presiden SBY melayat ke rumah duka memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. 
Sewaktu diberi kesempatan memberi sambutan mewakili sahabat Pak Ros di rumah duka - menjelang penyerahan resmi jenazah almarhum kepada negara untuk pemakaman di TMP Kalibata - saya menyinggung itu.

Bukan hanya kepada dunia pers, film, teater, sastra, Pak Ros punya kontribusi besar. Tetapi juga ternyata kepada dunia kedokteran.

Sangat boleh jadi Pak Ros adalah pasien pertama berusia 89 tahun yang menjalani operasi bypass jantung di Indonesia.

Kabarnya, pilihan terakhir itu diambil dokter karena kondisi Pak Ros memungkinkan. Tapi waktu besuk di RS Harapan kita, saya sempat cemas, ketika Pak Ros meminta perawat pribadinya memotret saya bersama beliau.

Saat Pak Ros menjalani operasi, Kamis (24/3), saya tak sempat melepas beliau masuk ruang bedah. Sebab, di hari-hari itu saya menghadapi rangkaian acara ritual menyongsong pernikahan putra saya.

Esoknya, Jumat (25/4) pagi, dr. Naila, mengirim pesan dari BBM.

"Alhamdulillah ayah mulai pulih. Ayah minta kaca mata, dan mau membaca surat kabar".

Saya minta dr. Naila mengirimi foto kondisi beliau. Tidak lama kemudian ponsel saya berdering. Subhanallah, yang mau bicara Pak Ros sendiri.

Dia bercerita tentang keberhasilan operasinya. Pak Ros juga menceritakan kesannya yang mendalam karena mantan Presiden RI B.J. Habibie sempat melepasnya masuk ruang bedah waktu mau operasi. Itu kunjungan ketiga Pak Habibie menengok Pak Rosihan.

Bangga Menjadi Muridnya

Saya mengagumi Pak Rosihan sejak masih kanak-kanak di Makassar, jauh sebelum saya jadi wartawan. Pertemuan sekaligus perkenalan pertama saya dengan beliau terjadi tahun 1977 di Jakarta.

Saya baru setahun jadi wartawan di Harian Angkatan Bersenjata ketika diutus untuk mengikuti pendidikan wartawan dalam program Karya Latihan Wartawan PWI yang dipimpin Pak Ros sebagai direktur program tersebut. 

Setelah itu, hubungan saya dengan Pak Ros semakin erat. Layaknya sebagai ayah dan anak, guru dan murid, tempat bertanya.

Intensitas pertemuan kami semakin meningkat tak hanya dalam urusan pers, tapi juga dalam dunia film. Ketika saya mendirikan Tabloid C&R, beliau yang pertama menyatakan kesediaan menulis kolom setiap kali terbit. 

Tanggal dan bulan kelahiran saya juga sama dengan Pak Ros. Kami sering merayakan ulang tahun bersama. Jika saya menghadapi masalah pribadi, beliaulah orang pertama yang peduli mendengar curahan hati. Begitu pun jika beliau menghadapi hal sama.

Pak Ros telah tiada. Sebelas tahun lalu. Dan Ibu Zuraida dua belas tahun lalu. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kebersamaannya di tempat yang lapang, nyaman, dan indah di sisi-Nya. Amien.

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : Kompas TV


TERBARU