> >

Catatan Akhir KTT G20: "Trust" Tidak Turun dari Langit (Bagian 2 - Habis)

Opini | 23 November 2022, 12:57 WIB
Delegasi berkumpul pada hari kedua Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 di Jakarta, Indonesia, Jumat, 18 Februari 2022. (Sumber: Associated Press)

Oleh: Trias Kuncahyono

BUAH dari kerja keras Indonesia sebagai pemegang mandat presidensi KTT G20 baru lalu adalah disepakatinya Leaders' Declaration Bali, sejumlah kesepakatan, dan beberapa hasil nyata. Ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan G20.

Disepakatinya Leaders' Declaration Bali tak pelak lagi menjawab keraguan banyak pihak -termasuk sejumlah kalangan dari Indonesia- akan kemampuan Indonesia.

Semua itu, kata Menlu Retno Marsudi saat konferensi pers usai puncak KTT G20 di Nusa Dua, Bali, pada Rabu (15/11), menunjukkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia.

“Kita patut bersyukur bahwa semua negara anggota G20 memercayai Indonesia sehingga pada akhirnya deklarasi para pemimpin dapat disepakati,” katanya.

Sebelumnya, memang, komunitas internasional menunggu untuk melihat apakah Indonesia dapat menyatukan pihak-pihak yang berkonflik untuk mencapai konsensus.

Dunia juga menunggu Indonesia untuk tidak hanya memastikan bahwa KTT G20 dapat menghasilkan kesepakatan bersama untuk menyelesaikan krisis ekonomi.

Tetapi juga menjadikan forum G20 sebagai tempat para pemimpin dunia, dari utara dan selatan, dapat bertemu bersama untuk mengonsolidasikan agenda dan kepentingan mereka yang berbeda.

Apalagi, rangkaian pertemuan menjelang pertemuan puncak di Bali diwarnai berbagai drama, yang mencerminkan adanya "konflik."

Pada bulan April, pejabat tinggi keuangan dari Kanada, Inggris Raya, dan Amerika Serikat walkout saat mitra mereka dari Rusia memberikan sambutan.

Lalu, bulan Juli, giliran Rusia membalas dalam pertemuan para menteri luar negeri, sebagai jawaban atas kecaman Barat terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Akan tetapi, bagaimanapun, setidaknya masyarakat internasional masih berharap konferensi multilateral ini dapat membawa angin segar di tengah kondisi global yang tidak menentu saat ini.

Harapan tersebut terkabul ketika pada akhirnya para peserta KTT bersepakat mengeluarkan deklarasi.

Berbagai tantangan tersebut justru telah menguatkan tekad Indonesia untuk bekerja keras demi suksesnya KTT.

Semua pihak yang terlibat seperti dipacu untuk melakukan segala daya upaya tak kenal lelah demi lancar, aman, dan damai serta suksesnya perhelatan dua hari itu.

Dan, ketika pada akhirnya KTT dilaksanakan sesuai jadwal 15-16 November, kata Sana Jaffrey (Carnegie Endowment for International Peace, 14/2) sebagian besar disebabkan oleh upaya tak kenal lelah dari para diplomat Indonesia yang sangat terampil, yang telah berusaha sekuat tenaga untuk menegaskan posisi Indonesia di panggung global.

"Hari ini mata dunia tertuju pada pertemuan kita. Apakah kita akan mencetak keberhasilan? Atau akan menambah satu lagi angka kegagalan? Buat saya, G20 harus berhasil dan tidak boleh gagal," kata Presiden Jokowi pada pidato pembukaan.

Maka, kiranya tidak salah kalau dikatakan bahwa disepakatinya Leaders' Declaration Bali oleh semua pemimpin yang hadir di tengah ketegangan dunia merupakan capaian signifikan bagi Indonesia.

Juga capaian signifikan bagi Presiden Joko Widodo di panggung internasional pada periode kedua masa jabatannya.

Alex Lo dalam South China Morning Post (15/11) menulis, Indonesia, bersama Afrika Selatan dan India, memainkan peran konstruktif dalam memediasi antara Barat dan Selatan.

Dari sejak mengunjungi Kyiv dan Moskwa untuk memediasi perang Ukraina hingga menjadi tuan rumah KTT G20, Presiden Jokowi muncul sebagai negarawan dunia, moderasi, good sense, dan netralitasnya telah memungkinkan Indonesia melampaui bobotnya dalam urusan masalah-masalah internasional.

Modal Utama

Kepercayaan (trust), kata Richard Ned Lebow (Global Asia, Vol. 8. No.3, September 2013) adalah konsep sentral dan perhatian utama dalam politik domestik dan internasional.

Di tingkat internasional hampir selalu melibatkan penilaian tentang aktor lain: Apakah mereka akan menjadi sekutu yang setia? Akankah mereka mematuhi perjanjian mereka dan komitmen lainnya? Apakah mereka memiliki niat baik?

Karena itu, menurut Katherine Brown dari Center on Public Diplomacy, University of Southern California (24 Februari 2020), di masa geopolitik yang bergejolak saat ini, stabilitas (stability), kekuatan (strengh), dan kepercayaan (trust) yang dihasilkan oleh pertukaran internasional dan dialog tatap muka menjadi lebih berharga.

Serangkaian dialog bilateral antar-para pemimpin yang berlangsung di sela-sela KTT tentu didasari oleh adanya saling percaya.

Dan, yang tidak boleh dilupakan adalah tuan rumah mampu menciptakan suasana, hawa, lingkungan yang menumbuhkan adanya saling percaya di antara para pemimpin.

Kepercayaan (trust) itu, kata Katherine Brown, penting karena merupakan landasan dari semua hubungan, baik itu sosial, komersial, atau politik. Dan pelaksanaan politik luar negeri juga didasarkan pada trust.

Maka, kata Menlu Retno Marsudi, kepercayaan merupakan modal utama Indonesia. Modal utama untuk berhubungan, untuk menjalin kerja sama dengan negara lain.

"Trust tidak turun dari langit…bukan metik dari pohon. Tetapi, trust tercipta karena investasi politik luar negeri Indonesia yang sangat lama," katanya.

Dengan kata lain, kepercayaan dibangun dengan kepatuhan berulang dengan aturan dan harapan yang ditetapkan untuk perilaku.

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : Kompas TV


TERBARU