> >

Koin untuk Kerokan Ini Mulai Dicetak pada 1856

Opini kompasianer | 2 Agustus 2023, 17:12 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.tv

Ilustrasi masuk angin dan kerokan (Sumber: Siam Reflexology)

 

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kalau Kompasianer, terutama dari 'generasi kolonial' suka kerokan, tentu ingat dengan koin benggol 2 cent dari masa Hindia-Belanda (Nederlandsch-Indie). Koin ini nyaman dipakai karena bagian sisinya tidak bergerigi. Dengan demikian badan terasa tidak sakit.

Fungsi koin ini cukup populer di mana-mana. Ini karena ukuran koin cukup besar sehingga tidak mudah lepas dari pegangan jari. Tercatat diameter koin ini 31 mm.

Koin 2 1/2 cent dalam kondisi lustre. Tentu belum pernah dipakai untuk kerokan (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Saya banyak memiliki koleksi koin ini. Kemungkinan dulu kakek nenek suka kerokan. Begitu juga mungkin orang tuanya kakek nenek. Tanda sering dipakai adalah terjadi keausan dan kotor pada kedua belah sisi koin.

Meskipun banyak, di mata kolektor koin ini kurang bernilai. Ini karena koin itu bekas pakai sehingga kotor dan aus. Detail pada koin di kedua sisi tidak tajam. Keausan di sana sini jelas terlihat.

Beberapa koin 2 1/2 cent dalam variasi tahun koleksi penulis (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Detail Koin

Perlu diketahui, kolektor mata uang atau numismatis memperhatikan sekali kondisi koin. Makin bagus kondisi koleksi, harganya akan semakin mahal.

Koin yang cukup berharga di mata kolektor, umumnya yang memperlihatkan detail gambar dan tulisan cukup jelas. Jika kotor, aus, atau karat, sudah pasti akan mengurangi nilai.

Koin 2 cent dikenal sebagai koin tembaga. Pertama kali dikeluarkan pada 1856. Setelah itu pada 1857 dan 1858. Lebih dari 30 tahun ada kekosongan, artinya tidak ada cetakan baru.

Koin 2 1/2 cent bertahun 1856, kondisi kurang bagus (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Koin benggol dikeluarkan lagi pada 1896-1899, 1902, 1907, 1908, 1909, 1913, 1914, 1915, 1920, dan 1945. Koin terakhir 1945 tercatat dicetak sebanyak 200.000 keping. Inilah jumlah terbanyak karena sebelumnya dicetak 48.000 keping (1920). Yang paling sedikit adalah cetakan 1896 sebanyak 1.120 keping.

Karena paling banyak dicetak, koin 1945 mudah ditemui di pasaran. Bahkan banyak yang berada dalam kondisi lustre (belum pernah dipakai bertransaksi dan belum pernah mengalami penanganan oleh manusia, misalnya dicuci). Koin 1945 dalam foto di atas termasuk kondisi lustre. Detail gambar dan tulisan masih jelas terlihat.

Koleksi Lengkap

Penulis : Djulianto Susantio

Sumber : Kompasiana


TERBARU