> >

Pakar BRIN Sebut Angin Kencang di Rancaekek Berpotensi jadi Tornado Pertama di Indonesia, Apa Itu?

Tren | 22 Februari 2024, 08:32 WIB
Tornado yang terjadi di Rancaekek di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Rabu (21/1/2024) sore (Sumber: Kompas.com)

Tornado biasanya disertai atau didahului oleh badai petir yang hebat dan angin kencang. Bahkan dalam beberapa kesempatan bisa terjadi hujan es.

Melansir Kompas.com, kecepatan tornado dapat mencapai 177 kilometer/jam. Jangkauan jarak rata-ratanya 75 meter dan dapat menempuh jarak beberapa kilometer.

Ada pula tornado yang memiliki kecepatan mencapai 300-480 kilometer/jam, dengan lebar jangkauan lebih dari 1 mil (1,6 kilometer), dan bisa bertahan di permukaan tanah lebih dari 100 kilometer.

Tornado sering terjadi di wilayah Amerika Serikat, Kanada, Amerika Latin, Eropa, Afrika Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Baca Juga: Hasil Gelar Perkara, Polisi Tetapkan Kasus Perundungan di Binus School Naik ke Penyidikan

Ciri-ciri Tornado

  • Langit seketika berubah mendung dan menghitam
  • Biasanya terjadi hujan es di sekitar daerah selama 25 menit
  • Pasca-badai, suasana berubah menjadi lebih tenang, namun langit makin gelap dan menghitam
  • Awan bergerak cepat dan mengelilingi suatu wilayah
  • Terdengar suara keras seperti air terjun lalu berubah seperti suara pesawat jet yang sangat keras
  • Tornado biasanya bergerak dari arah barat ke timur laut, namun ada pula yang bergerak ke arah timur, tenggara, utara, dan barat laut.

Apa Perbedaan Tornado dengan Puting Beliung?

Dikutip dari laman bmkg.go.id, puting beliung adalah sebutan lokal untuk tornado skala kecil yang terjadi di Indonesia.

Sementara itu, menurut laman bpbd.ntbprov.go.id, angin Puting beliung berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit.

Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus, di daerah Sumatera disebut Angin Bohorok dan masih ada sebutan lainnya. 

Ciri-ciri Angin Puting Beliung

Puting beliung merupakan dampak ikutan awan Cumulonimbus (Cb) yang biasa tumbuh selama periode musim hujan, tetapi tidak semua pertumbuhan awan CB akan menimbulkan angin puting beliung.

  • Kehadirannya belum dapat diprediksi.
  • Terjadi secara tiba-tiba (5-10 menit) pada area skala sangat lokal.
  • Pusaran puting beliung mirip belalai gajah/selang vacuum cleaner.
  • Jika kejadiannya berlangsung lama, lintasannya membentuk jalur kerusakan.
  • Lebih sering terjadi pada siang hari dan lebih banyak di daerah dataran rendah.

Penulis : Dian Nita Editor : Deni-Muliya

Sumber : Kompas TV, Kompas.com, bmkg,go.id, bpbd.ntbprov.go.id


TERBARU