> >

MUI: Manusia Serakah Jadi Penyebab Krisis Iklim dan Bencana

Agama | 30 November 2021, 15:49 WIB
Bencana Banjir Bandang di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Jumat (17/7/2020). Kata MUI, perubahan atau krisis iklim terjadi karena manusia serakah hingga terjadi bencana (Sumber: Dok BNPB)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr Ir Hayu S Prabowo, M.Hum  mengatakan krisis iklim yang marak terjadi di dunia, termasuk di Indonesia, disebabkan oleh manusia. Lebih spesifik, manusia serakah.  

Ia menyampaikan, keserakahan manusia menjadi salah satu penyebab krisis iklim yang mengakibatkan bencana alam.

"Krisis iklim sejatinya krisis moral, dimensinya banyak. Manusia serakah jadi salah satu sebab krisis iklim dan bencana alam. Jadi terefleksi pada kehidupan manusia modern yang kurang mengindahkan kehidupan berkelanjutan," kata Hayu dalam webinar "Literasi dan Aksi Iklim Generasi Muda Religius Lintas Agama" sebagaimana dikutip Antara, Selasa (30/11).

Karena itu, katanya, krisis iklim juga perlu ditangani melalui pendekatan agama. Pendekatan agama ini agar masyarakat menyadari bahwa alam perlu dipelihara untuk kelangsungan hidup manusia ke depan.

Baca Juga: Diterpa Kontroversi, MUI Tetap Berkomitmen sebagai Juru Damai di Dunia Internasional

Fatwa MUI terkait Pelestarian Alam

MUI, menurut Hayu, telah menerbitkan enam fatwa berkaitan dengan pelestarian alam, yakni Fatwa Nomor 2 Tahun 2010 tentang Daur Ulang Air, Fatwa Nomor 22/2011 tentang Pertambangan Ramah Lingkungan, dan Fatwa Nomor 4/2014 tentang Pelestarian Satwa Langka.

Selan itu, MUI menerbitkan Fatwa Nomor 47/2014 tentang Pengelolaan Sampah, Fatwa Nomor 1/2015 tentang Pendayagunaan ZISWAF untuk Pembangunan Sarana Air dan Sanitasi Masyarakat, dan Fatwa Nomor 30/2016 tentang Hukum Pembakaran Hutan dan Lahan.

"Dari fatwa itu, kita kemudian membuat pedoman umum. Lalu kita adakan sosialisasi dan pelatihan bagi DAI untuk penerapannya," kata Hayu S. Prabowo .

Dalam kesempatan yang sama, Plt. Deputi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan perlunya menggandeng generasi muda religius lintas agama untuk turut dalam pelestarian lingkungan guna mengurangi dampak perubahan iklim.

"Sebagai negara berketuhanan yang maha esa, upaya adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim dapat melibatkan unsur masyarakat berbasis keagamaan, yang banyak mengajarkan berbuat baik kepada sesama manusia dan lingkungan. Upaya ini terutama dilakukan di antara kaum muda," katanya.

Penulis : Dedik Priyanto Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU