> >

Youtube Para Capres, antara Godaan Pencitraan dan Kenyataan di Lapangan

Politik | 28 Desember 2021, 15:19 WIB
Kolase foto Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan. Gubernur DKI Jakarta Anoes Baswedan bakal dideklarasikan sebagai capres oleh kelompok bernama ANIS pada Rabu siang (20/10/2021). (Sumber: Tribun Timur)

Menurut analis politik dari lembaga survei Charta Politika Yunarto Wijaya, sah saja bila banyak kepala daerah, apalagi yang masuk ke dalam survei capres, mulai tampil di media sosial seperti youtube. "Cukup masuk akal, tapi seberapa berguna?" kata Yunarto, saat berbincang di Program Sapa Pagi, KOMPAS TV, Selasa (28/12/2021).

Toto panggilannya, mewanti-wanti jangan sampai cara berkomunikasi ke publik melalui media sosial itu malah jadi bumerang. Pasalnya, para calon pemilih akan menilai apakah yang diunggah benar-benar otentik atau sekadar pencitraan demi mengatrol elektabiltas. "Jangan ada gap, pemilih akan menilai apakah yang ditampilkan linier dengan kerja di lapangan?" ujarnya.

Baca Juga: Sandiaga Uno Ditanya Soal Capres 2024, Ini Jawabannya

Sementara menurut pengajar komunikasi politik dari Universitas Padjajaran Kunto Adi Wibowo, medsos hanya satu instrumen saja dalam menjual gagasan para calon ke publik. 

Lewat medsos  publik akan melihat para capres yang mengunggah aktivitasnya, kemudian menyamakan dengan dirinya. Ada proses personalisasi sehingga publik merasa memiliki kesamaan dengan capres yang diidolakannya.

Namun semua aktivitas itu harus relevan dengan kenyataan. "Relevansi itu penting, bukan seperti elite yang tidak menginjak tanah," ujar Ari.

Pada akhirnya, baik Toto maupun Kunto, sepakat bahwa apapun unggahannya tidak akan berpengaruh banyak bahkan bisa menjadi kampanye negatif bila tidak sesuai kenyataan di lapangan  atau sekadar tampil memoles citra diri di hadapan khalayak.


 

Penulis : Iman-Firdaus

Sumber : Kompas TV


TERBARU