> >

Pendanaan Pendidikan Tinggi di Indonesia Kalah dari India, Begini Penjelasan Nadiem

Update | 28 Juni 2022, 06:10 WIB
Mendikbudristek menyebut pendanaan pendidikan tinggi Indonesia masih kalah jauh dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk India. (Sumber: Tangkapan layar YouTube)

JAKARTA, KOMPAS.TV – Pendanaan pendidikan tinggi Indonesia masih kalah jauh dibandingkan sejumlah negara lain, termasuk India.

Pernjelasan itu disampaikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Nadiem Makariem saat meluncurkan Merdeka Belajar episode 21, Senin (27/6/2022).

Nadiem mengatakan, investasi di pendidikan tinggi kita punya dampak terbesar dan tercepat dari semua investasi. Kalau menginginkan hasil lebih cepat, pendidikan tinggi lebih adalah cara tercepat membangun ekonomi kita.

“Tapi, kenyataannya, Indonesia masih jauh sekali dibanding negara lain dari sisi pendanaan pendidikan tinggi kita,” ucapnya.

“Kita melihat kita masih di bawahnya India. India dengan populasi yang jauh lebih besar dari kita pun, dengan tingkat kemiskinan yang cukup tinggi juga, lebih besar dari kita 1,5 kali per lulusan.”

Dia menjelaskan, poin dari pernyataan itu adalah perjalanan pendidikan Indonesia masih jauh, dan jika terus menerus bergantung pada pendanaan dari pemerintah, perjalanan tidak akan sampai.

Perguruan tinggi, kata dia, membutuhkan kesiapan untuk mampu mendapatkan pendanaan dari sektor lain di luar pemerintah, misalnya swasta, alumni, serta kerja sama luar negeri.

“Dengan kolaborasi yang kuat pada sektor-sektor tersebut, Indonesia  punya kesempatan mengejar ketertinggalan.”

Baca Juga: Dinas Pendidikan Makassar Perpanjang Pendaftaran PPDB

“Saat ini, tambahan dana yang signifikan hanya bisa terjadi kalau ada kolaborasi dengan pihak swasta,” lanjutnya.

Menurutnya, inilah poin dari Merdeka Belajar episode ke-21 ini, yakni bagaimana caranya mendapatkan dana dari swasta, alumni, daripada selalu mengandalkan dua  hal, dana  dari pemerintah dan dari UKT.

Nadiem mencontohkan sejumlah perguruan tinggi kelas dunia, yang mendapatkan donasi bernominal fantastis.

“Kita lihat beberapa world class brench market, kita melihat angka-angka fantastis. Tahun 2022, MIT mendapatkan USD80 juta donasi mereka dan selalu tercapai target mereka.”

“Alumni yang menyumbang untuk MIT ada 40 ribu orang, Harvard Bussiness itu ada 10.500, dan tujuan penggunaan adalah untuk menjngkatkan world class status dari universitas-universitas ini,” urainya.

Menurut Nadiem, perguruan-perguruan tinggi di Indonesia sebenarnya mampu untuk melakukan hal-hal semacam itu, dengan syarat harus mau bergerak serentak.

Nadiem juga menuturkan Kemendikbudristek menyiapkan anggaran sebesar Rp7 triliun yang akan disalurkan pada perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) yang berhasil menggalang dana dari masyarakat.

“Tujuh triliun ini akan dikelola LPDP, dan bunganya dari Rp7 triliun ini, setiap tahunnya akan disalurkan ke PTNBH yang berhasil meningkatkan dana abadinya masing-masing,” tuturnya.

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU