> >

Yenny Wahid Ingatkan Elit Politik untuk Tak Gunakan Isu SARA di Pemilu 2024

Rumah pemilu | 30 Juni 2022, 05:48 WIB
Yenny Wahid menjelaskan, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengelompokkan kegiatan jelang hari ulang tahun NU yang ke-100 menjadi sembilan rumpun besar. (Sumber: Tangkapan layar Kompas TV)

JAKARTA, KOMPAS TV - Direktur Wahid Foundation Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid meminta kepada para elit politik agar tak menggunakan isu suku, ras, agama, dan antargolongan (SARA) sebagai alat konsolidasi suara menjelang Pemilu 2024.

Menurut dia, dengan menggunakan isu SARA memang dapat dengan cepat mendulang suara, tetapi dampaknya dapat memecah belah masyarakat Indonesia.

“Isu SARA menjadi isu yang paling mudah dipakai untuk konsolidasi politik, tetapi isu itu sangat berbahaya bagi masyarakat. Dampaknya panjang,” kata Yenny seperti dikutip dari Antara, Kamis (30/6/2022).

Baca Juga: Buntut Promosi SARA, Holywings Kalideres Digeruduk Ormas!

Dia mengingatkan para politikus tak mengambil jalan pintas tersebut dan meminta masyarakat sebagai pemilih agar cerdas serta tidak mudah terprovokasi apabila ada pihak-pihak yang menggunakan isu SARA dalam kampanye politiknya.

“Kita sebagai pemilih cerdas harus menuntut pertanggungjawaban tokoh politik agar tidak menggunakan isu SARA karena dampaknya masyarakat akan terbelah. Dampaknya panjang dan sangat merusak,” kata Yenny.

Menurut dia, penggunaan isu SARA merupakan hal yang bertentangan dengan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara.

Pancasila, kata Yenny merupakan cara hidup yang menghargai adanya kebinekaan atau keragaman dalam hidup bermasyarakat.

“Indonesia beruntung karena punya Pancasila. Bagi kami umat Islam, Pancasila adalah ikatan suci yang menyatukan seluruh warga negara Indonesia apa pun latar belakang agama, kepercayaan, dan ras dalam satu bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Yenny.

Ia menjelaskan, Pancasila adalah mekanisme untuk mengelola perbedaan sehingga masyarakat Indonesia yang beragam dapat hidup berdampingan dan bersikap toleran terhadap perbedaan.

Penulis : Fadel Prayoga Editor : Iman-Firdaus

Sumber : Antara


TERBARU