> >

Ajak Pengunjung untuk Melek Teknologi Digital, Palmerah, Yuk! Kali Ini Bahas NFT

Sosial | 31 Januari 2023, 03:05 WIB
Bincang Sore Palmerah, Yuk! hari ini bertajuk Bertemu di Tengah: NFT dalam Jurnalisme, Seni, dan Edukasi dengan menghadirkan narasumber yang kredibel di bidangnya, yakni Commercial Development Manager Herman Taofani, GM Communication Management & Bentara Budaya Ilham Khoiri, Founder KOGI.NFT Diptraya P. Ratulangi, serta dipandu oleh Co-founder KOGI.NFT Salsabi R. Talkshow yang digelar mulai pukul 15.00 - 16.30 WIB.  (Sumber: Dok Corp Comm Kompas Gramedia)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Kompas Gramedia kembali menggelar acara Palmerah, Yuk! pada Jumat, 27 Januari 2023. Acara yang rutin diadakan sepekan sekali ini kembali membawa misi untuk menyatukan konektivitas antarkaryawan Kompas Gramedia juga masyarakat luas.

Bincang Sore Palmerah, Yuk! hari ini bertajuk “Bertemu di Tengah: NFT dalam Jurnalisme, Seni, dan Edukasi" dengan menghadirkan narasumber yang kredibel di bidangnya, yakni Commercial Development Manager Herman Taofani, GM Communication Management & Bentara Budaya Ilham Khoiri, Founder KOGI.NFT Diptraya P. Ratulangi, serta dipandu oleh Co-founder KOGI.NFT Salsabi R. Talkshow digelar mulai pukul 15.00 - 16.30 WIB. 

Selama talkshow berlangsung, para narasumber berbagi insight dari sudut pandang yang beragam dan menarik serta penting untuk didengarkan mengenai NFT.

Dari sudut pandang jurnalisme, Helman Taofani berpendapat bahwa pemanfaatan NFT itu bisa dieksplorasi. Kita harus memaknai performa NFT dalam makna luas dan jangka panjang. Menurutnya juga NFT bisa menjembatani dunia nyata dengan dunia digital.

“NFT itu bisa dieksplorasi lebih jauh, banyak peluang yang variatif di sana. Kita tuh enggak harus memanfaatkan NFT dalam makna sempit. NFT ini bisa kita anggap sebagai bridging yang baik dari dunia nyata ke dunia maya atau virtual,” pungkas Helman.

Baca Juga: Dimulai, Kelas Perdana Laboratorium NFT Bentara Budaya Powered by Astra

Dari sudut pandang seni, Ilham Khoiri menyampaikan, NFT bisa menjadi peluang baru bagi para seniman. Dengan mendigitalisasi karya seni, maka karya tersebut akan tetap ada dan eksis secara digital.

“Ketika seniman sudah menaruh karya seninya di NFT, maka karya tersebut akan menjadi kekal, semua orang bisa mengakses dan waktunya juga tidak terbatas. Selain sebagai wadah untuk berekspresi, para seniman juga bisa menunjukkan karyanya sekaligus mendapatkan koneksi dan pendapatan,” ucap Ilham. 

Diptraya juga menyampaikan pandangannya sebagai seorang edukator. Baginya saat ini adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mendapatkan akses pengetahuan tentang NFT. Ia juga menyampaikan bahwa edukasi itu milik siapa saja, tidak terbatas oleh apa pun.

“Kita harus bisa mengedukasi orang banyak, tapi sebelum itu kita harus bisa menguasai ilmunya. Di dunia NFT lu harus paham tentang lisensi originalitas NFT-nya. Kalau bisa pinjam istilah di KOGI, edukasi itu bukan cuma di Jawa saja, apalagi ini teknologi digital yang bisa diakses di mana pun,” ungkap Raya.

Penulis : Redaksi Kompas TV Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU