> >

Asyiknya Wisata Akhir Pekan: Menjajal Keseruan Arung Jeram Sungai Jangkuk di Lombok

Wisata | 26 Februari 2023, 05:35 WIB
Dua perahu karet tampak melintasi jeram di Sungai Jangkuk, Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Selasa (14/2/2023). (Sumber: Lombok Rafting)

BATU MEKAR, KOMPAS.TV – Wisata Lombok ternyata tak melulu menyelami lautan biru atau pendakian gunung dan bukit. Lombok juga punya sungai yang bisa diarungi, yakni Sungai Jangkuq atau Jangkuk di Lombok Barat. 

Ini sekelumit cerita perjalanan menjajal serunya jeram-jeram di Sungai Jangkuk.   

Hujan Bikin Debit Air Sungai Meninggi

Gerimis mengiringi perjalanan selepas ibu kota Nusa Tenggara Barat (NTB), Mataram, menuju Desa Batu Mekar di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Rintiknya malah kian menderas begitu mendekati tujuan.

Musim hujan sepertinya belum akan berakhir, mengingat di pertengahan Februari 2023 saat itu, hujan hampir selalu mengguyur sebagian besar wilayah NTB.

Langsung terngiang di telinga ucapan Dwi Amang Supiyanto (49), pemilik sekaligus pengelola Lombok Rafting, operator rafting atau arung jeram di Desa Batu Mekar.

“Kalau nanti debit airnya kecil, saya akan minta bendungan dibuka sedikit supaya airnya naik sedikit,” janji Amang, begitu ia diakrabi, merujuk Bendungan Jangkuk di bagian hulu, saat Kompas.tv mengontaknya dua pekan sebelum rafting

Sebab, debit air sungai yang tinggi biasanya menciptakan jeram-jeram menantang, yang biasanya justru dicari para rafter penikmat adrenalin. Tetapi, sepertinya debit air sungai kali itu cukup besar. 

Sebelum memulai penyusuran sungai, mobil bak terbuka membawa para peserta rafting menyusuri jalan pedesaan setempat yang sempit dan menanjak. Tak lama, hanya sekitar 10 menit kemudian, para peserta turun dan berjalan kaki menuju sungai. 

Dua perempuan warga desa turut mengangkut perahu karet dari tepi jalan desa hingga sungai yang jaraknya sekitar 500 meter. Untuk jasa mengangkut perahu karet, seorang warga dibayar Rp20 ribu.

“Kami berbagi pendapatan dengan warga desa juga,” ujar salah seorang pemandu.

Setiba di tepi sungai, satu demi satu perahu pun memulai pengarungan. Siang itu, tak kurang tujuh perahu karet berpenumpang empat hingga lima orang per perahu turun ke air, siap mengarungi Sungai Jangkuk. 

Dan benar saja, debit air hari itu ternyata cukup besar. Belum semenit memulai pengarungan, jeram-jeram kecil tapi menantang langsung menyambut, dan membuat kuyup para penumpang perahu.

Raut wajah penuh takut bercampur senang para penumpang perahu langsung berganti tawa riang begitu jeram-jeram terlewati. Seru!

Keseruan mengarungi jeram di Sungai Jangkuk di Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Selasa (14/2/2023). (Sumber: Lombok Rafting)

Jeram Tibu Nyanyang yang menantang

Namun, menjelang sebuah jeram yang diberi nama Jeram Tibu Nyanyang, para peserta diminta untuk turun dari perahu dan berjalan kaki menyusuri pinggiran sungai. Dari keterangan pemandu, diperoleh keterangan bahwa debit air yang tinggi membuat jeram yang dalam bahasa Sasak berarti Jeram Lebah itu terlalu berbahaya untuk dilalui.

“Sekarang terlalu bahaya, karena debit airnya terlalu besar, takutnya nanti ada beberapa peserta yang tidak siap, panik. Yang kita khawatirkan ada accident seperti benturan hidung kena helm atau dayung, dan sebagainya,” terang Amang.

Rafting itu kan mengelola risiko untuk menjadi kesenangan. Jangan sampai dengan adanya accident, orang jadi bad image sama kami,” imbuh pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu.

Dari ketinggian pinggiran daratan sungai, tampak deburan air sungai menggelora di bagian jeram yang alurnya menyempit, yang jujur saja, memang tampak mengancam. 

“Jeram Tibu Nyanyang itu jeramnya miring, hampir pasti perahu akan terbalik jika debit airnya besar seperti sekarang, dan di bawahnya ada undercut,” terang Abdul Indrawan (40), salah seorang pemandu, merujuk cerukan pada dinding sungai yang memiliki pusaran air menggulung ke bawah. Karena risiko bahayanya, terperangkap di undercut bisa jadi mimpi buruk bagi rafter.    

“Kalau debit airnya medium, aman, bisa dilewati, tapi kalau sekarang, terlalu berbahaya,” imbuh pemandu yang telah menggeluti arung jeram selama 9 tahun belakangan sejak Lombok Rafting berdiri itu.

Penulis : Vyara Lestari Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU