> >

KemenPPPA Sorot Stigmatisasi pada Anak dengan HIV/AIDS, Renggut Hak Pendidikan

Humaniora | 11 April 2023, 00:20 WIB
Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Elvi Hendrani dalam webinar bertajuk Bimtek Peran Masyarakat dalam Perlindungan Anak dengan HIV/AIDS di Jakarta, Senin (10/4/2023). (Sumber: Anita Permata Dewi/Antara)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) Elvi Hendrani menyorot tingginya stigmatisasi pada anak dengan HIV/AIDS (ADHA).

Bahkan, Elvi menyebut tingginya stigmatisasi sampai menyebabkan kasus anak kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan.

Menurut dia, ada banyak kasus anak yang dikeluarkan sekolah usai diketahui mengidap HIV/AIDS. Pihak sekolah mengkhawatirkan ADHA akan menularkan HIV/AIDS ke teman-temannya ataupun guru.

Baca Juga: Angka Penderita HIV Aids di Madiun Terus Meningkat

"Stigmatisasi sering kali menyertai anak-anak dengan HIV/AIDS atau yang kita sebut dengan ADHA. Karena stigma ini kasusnya menjadi sangat tinggi dan berdampak pada banyak hal, seperti hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan," kata Elvi dalam webinar Bimtek Peran Masyarakat dalam Perlindungan Anak dengan HIV/AIDS, Senin (10/4/2023), sebagaimana dikutip Antara.

"Stigma ini berdampak pada kekerasan yang mereka terima, pengucilan, dan lain-lain," lanjutnya.

Elvi pun mendorong agar kelompok-kelompok masyarakat peduli dan melindungi anak-anak yang masuk dalam kategori perlindungan khusus, termasuk anak pengidap HIV/AIDS.

"Bila kelompok masyarakatnya kuat, itu menjadi fondasi kuat untuk perlindungan anak yang masuk ke dalam kelompok perlindungan khusus, terutama yang terkena HIV/AIDS. Karena akan berkali lipat kerentanannya jika kita tidak segera bertindak untuk melindungi mereka," kata Elvi.

Demi perlindungan ADHA, KemenPPPA pun menggelar bimbingan teknis terkait perlindungan anak dengan HIV/AIDS.

Peserta bimbingan teknis ini di antaranya Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), Relawan SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak), Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA), serta aktivis masyarakat.

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Edy-A.-Putra

Sumber : Antara


TERBARU