> >

Mengenang Hari Wafat RA Kartini (II): Sang Pahlawan Emansipasi yang Direnggut Preeklamsia

Humaniora | 17 September 2023, 09:00 WIB
Makam RA Kartini di Desa Mantingan Kecamatan Bulu Rembang. (Sumber: rembangkab.go.id)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Raden Ajeng Kartini (lahir di Jepara 21 April 1879) dipercaya meninggal karena preeklamsia, pada 17 September 1904 di Rembang, pada usia 25 tahun.

Saat Kartini menghembuskan nafast terakhir, belum ada yang mengenal penyebab kematian itu. Namun yang pasti, di tahun-tahun tersebut angka kematian ibu dan anak di tanah air sangatlah tinggi.    

Sang suami, Djojoadiningrat, yang menemani di detik detik kematiannya menuturkan. “Dengan halus dan tenang ia mengembuskan napasnya yang terakhir dalam pelukan saya, lima menit sebelum hilangnya (meninggal), pikirannya masih utuh, dan sampai saat terakhir ia masih sadar," tulis Djojoadiningrat seperti di kutip dari buku "Kartini: Sebuah Biografi" yang ditulis oleh Sitisoemandari Soerto.

Baca Juga: RA Kartini Belajar Islam dari Guru Pendiri NU dan Muhammadiyah, Minta Al Quran Diterjemahkan

Hingga saat ini, preeklamsia masih disebut sebagai penyebab nomor dua kematian ibu di Indonesia. Data dari Kementerian Kesehatan pada 2012 menyebutkan preeklamsia merupakan penyebab kematian ibu yang tinggi di samping pendarahan dan infeksi, yaitu perdarahan mencapai 28 persen, preeklamsia sebesar 24 persen, infeksi sebesar 11 persen, komplikasi peuperium sebesar 8 persen, partus lama sebesar 5 persen, dan abortus sebanyak 5 persen.

Tidak heran bila ada hari preeklamsia sedunia yang diperingati setiap tanggal 22 Mei. Kementerian Kesehatan mencatat, preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan berpotensi berbahaya yang ditandai dengan tekanan darah tinggi. Kondisi ini biasanya terjadi ketika usia kehamilan mencapai 20 minggu.

Oleh karena itu, ibu hamil harus waspada dan tetap menjaga kesehatan tubuh agar tidak terjadi komplikasi.

Bukan hanya di Indonesia, preeklamsia juga masih merupakan suatu masalah di dunia. Karena 10 persen ibu hamil di seluruh dunia mengalami preeklamsia, dan menjadi penyebab 76.000 kematian ibu dan 500.000 kematian bayi setiap tahunnya.

dr Fauzan Achmad Maliki, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM yang dikutip dari situs ugm.ac.id, menyebutkan bahwa preeklamsia ini terjadi pada ibu hamil setelah dua puluh minggu atau setara dengan empat bulan masa kehamilan dan tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg.

Menurut Fauzan, preeklamsia dapat muncul dengan gejala maupun tanpa gejala. Tekanan darah tinggi biasanya muncul secara perlahan-lahan, sehingga ibu hamil biasanya tidak sadar dan tidak mengetahuinya hingga ia memeriksakan dirinya dalam kontrol rutin antenatal care baik ke bidan maupun ke dokter.

Tanda yang sering muncul pada ibu hamil dengan preeklamsia antara lain nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut kanan atas, mual dan muntah, serta produksi urine menurun.

 

“Pencegahan preeklamsia masih sulit dilakukan. Beberapa studi menyatakan bahwa dengan modifikasi dari gaya hidup seperti restriksi kalori, membatasi asupan garam, mengonsumsi bawang putih, serta mengonsumsi vitamin C dan E, masih tidak menunjukkan adanya pengaruh yang bermakna dalam upaya pencegahan preeklamsia ini," jelas dokter Fauzan.

Penulis : Iman Firdaus Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU