> >

Jokowi Bakal Berikan Satyalencana kepada Gibran dan Bobby, Pengamat: Masyarakat akan Menilai Negatif

Peristiwa | 24 April 2024, 22:08 WIB
Kolase foto Presiden Joko Widodo atau Jokowi diapit putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka dan salah seorang menantunya Bobby Nasution. Rencananya Presiden Jokowi akan memberikan penghargaan Satyalencana kepada Gibran yang juga Wali Kota Solo dan Bobby Wali Kota Medan. (Sumber: Tribunnews)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Pengamat politik Ujang Komarudin menilai, keputusan untuk memberikan bintang kehormatan Satyalencana dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution justru dapat memicu sentimen negatif di kalangan publik. 

Menurutnya, meski pemberian bintang penghormatan Satyalencana didasarkan pada aturan dan standar tertentu, memberikan penghargaan kepada Bobby dan Gibran di era Jokowi ini dapat dianggap sebagai bentuk praktik KKN.

Apalagi sebelumnya, istri Presiden Jokowi, Iriana, juga pernah diberi penghargaan Bintang RI Adiprana. Oleh karena itu, menurut Ujang, rencana tersebut seharusnya dihindari.

"Saya sih sejatinya harus dihindari karena nanti akan ada tuduhan-tuduhan terkait dengan KKN dan lain sebagainya," kata Ujang kepada KompasTV, Rabu (24/4/2024).

"Apalagi ibu Iriana juga sudah mendapatkan hal yang sama. Oleh karena itu di masa akhir jelang masa Pak Jokowi berakhir, harusnya dihindari. Karena masyarakat akan menilai sesuatu ini jadi negatif."

"Walaupun memang mungkin ada ukuran terkait dengan pemberian tersebut, tapi ketika diberikan kepada anaknya, menantunya dan keluarganya, itu akan jadi problem dan jadi pertanyaan publik."

"Oleh karena itu, saya lihatnya kurang cocok, kurang pas kalau diberikan pada anaknya ataupun menantunya.

Ujang juga menyebut, akan banyak kritik keras yang datang jika penghargaan tersebut tetap diberikan Presiden Jokowi kepada anak dan menantunya yaitu Gibran dan Bobby.

"Ini akan jadi kritik keras dari publik walaupun bisa jadi penghargaan tersebut berdasarkan penilaian yang benar," lanjutnya.

"Kalau diberikannya pada presiden yang adalah ayahnya maka akan jadi persoalan di mata rakyat Indonesia. Kita harus menilai secara obyektif kalau benar ya benar, kalau salah ya salah. Konteks pemberian kurang pas karena ini bagian dari anaknya sendiri, keluarga," jelasnya.

Penulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada

Sumber : Kompas TV


TERBARU