> >

Jejak dan Harapan Garuda Muda (III): dari Pogacnick ke Shin Tae-Yong

Humaniora | 27 April 2024, 06:10 WIB
Pelatih Timnas Indonesia untuk Kualifikasi Olimpiade 1980 Frans van Balkom (kiri) berbincang dengan dua asistennya, Bertje Matulapelwa dan Hengky Heipon. Foto diambil pada 19 Maret 1980 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. (Sumber: Kompas.id)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Antun "Toni" Pogacnik adalah pelatih Timnas Indonesia saat bertandang ke Melbourne, Australia, untuk berhadapan dengan Uni Soviet di ajang Olimpiade 1956 dengan skor kacamata. Racikan pelatih asal Yugoslavia itu terbukti ampuh. 

Dua tahun sebelumnya, tahun 1954, tepatnya pada saat perhelatan Asian Games II di Manila, Pogacnik bersama Timnas berhasil  menembus babak semifinal namun harus kandas dalam pertandingan melawan Taiwan dengan skor 2-4. Dalam perebutan juara 3, kalah oleh Birma dengan skor 4-5.

Kejutan terjadi saat perhelatan Asian Games III 1958 di Tokyo, Jepang. Timnas Indonesia mampu menorehkan prestasi tertinggi dengan meraih perunggu dalam Asian Games 1958. Timnas berhasil menekuk tim sepak bola India dengan skor 4-1. Saat  pertandingan sepak bola di Olimpiade Melbourne, Timnas Indonesia harus bertemu Timnas Uni Soviet.

Baca Juga: Daftar Info Lokasi Nobar Timnas U23 Indonesia vs Korea Selatan: Jakarta, Semarang, hingga Surabaya

Berhasil menahan imbang Uni Soviet tanpa gol adalah salah satu prestasi, sebab Soviet adalah salah satu jawara sepak bola dunia. Saat itu, babak tambahan dan adu tendangan penalti belum menjadi aturan yang lumrah sehingga diadakan pertandingan kedua. Namun keberuntungan belum berpihak pada Timnas Indonesia. Dalam pertandingan kedua, Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan Timnas Uni Soviet dengan skor 4-0.

Setelah Pogacnick tak melatih Timnas pada 1964, timnas sepak bola Indonesia masih disegani di ASEAN, bahkan di Asia. Di tingkat Asia, misalnya, prestasi timnas adalah lolos ke babak semifinal sepak bola Asian Games tahun 1986. Namun, Timnas gagal meraih medali perunggu setelah kalah dari Kuwait 0–5 di Stadion Olimpiade, Seoul, Korea Selatan.

Sebelumnya, Timnas Indonesia juga berlaga hingga babak perempat final di Asian Games 1966 dan Asian Games 1970. Adapun di ajang Piala Dunia 1986 di Meksiko, Timnas lolos ke putaran II Kualifikasi Piala Dunia Zona Asia.

Dikutip dari Litbang Kompas, pada masa Orde Baru, tercatat 12 pelatih lokal membesut tim Garuda. Mulai dari Endang Witarsa (1966-1970) sampai Danurwindo (1995-1996). Sementara pelatih asing tercatat sembilan nama yang pernah menangani tim Garuda yang semuanya berasal dari Eropa.

Baca Juga: KBRI Doha: 5.000 WNI akan Dukung Timnas U23 Indonesia saat Lawan Korea Selatan

Pada awal Orde Baru, satu nama pelatih yang melegenda adalah Endang Witarsa (1966-1970). Bersama Timnas Indonesia, ia sudah melalui beberapa laga internasional. Pelatih yang akrab disapa Opa Endang itu sudah menggondol gelar Piala Raja (Bangkok/1968), Merdeka Games (Malaysia/1969), dan Aga Khan Cup (Bangladesh/1969). Selain itu, Endang Witarsa juga mendampingi timnas Garuda hingga babak perempat final di Asian Games 1966 dan 1970.

Penulis : Iman Firdaus Editor : Vyara-Lestari

Sumber : Kompas TV


TERBARU