> >

Harga Meliuk Senjata Tikam Berlekuk di Pameran Keris Klaten

Gaya hidup | 16 Januari 2022, 09:09 WIB
Sejumlah keris yang dipamerkan di pameran tosan aji Omah Patosaka, Klaten, Jawa Tengah. (Sumber: Kompas TV/Kurniawan Eka Mulyana)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV – Lantunan gending Jawa mengalun tak terlalu keras. Perlahan merayap memasuki rongga telinga orang-orang di Omah Patosaka, Klaten, Jawa Tengah, lokasi pameran puluhan keris.

Di luar ruangan, rinai gerimis membasahi jalanan aspal. Perciknya sesekali beterbangan tersapu angin saat beberapa kendaraan melintas, membasahi kendaraan lain yang terparkir di tempat itu.

Beberapa orang duduk berkelompok-kelompok, mulai dari dalam ruangan hingga di halaman yang beratap tenda terpal.

Sebanyak 20 meja berjejer di ruang pameran. Di atasnya, puluhan keris yang merupakan senjata tikam tradisional tertata rapi. Beberapa bilah sengaja dilepas dari sarungnya.

Bentuk dan pamor yang tergambar pada keris-keris itu sebagian besar berbeda satu dengan lainnya. Tapi, ada kesamaan lekukan pada semua bilah keris, yakni selalu ganjil.

Lekukan ganjil melambangkan manusia yang tidak pernah bisa genap alias selalu memiliki kekurangan.

Baca Juga: Pernah Dinyatakan Hilang Ratusan Tahun, Keris Pangeran Diponegoro Kini di Solo

Seorang pria bersurjan (pakaian adat Jawa) berdiri di sudut ruangan. Tangannya meraih pataka di depannya. Dengan sedikit menunduk dia memperbaiki posisi pataka.

Keris Buatan Abad 12

Tepat di bawah tiang pataka, beberapa kuntum bunga yang entah apa jenisnya, tersimpan rapi di dalam wadah. Sepertinya itu semacam ubarampe atau sesajen.

Tapi, tidak tercium aroma wangi bunga di situ. Justru aroma khas asap rokok dari beberapa orang yang mengisapnya yang lebih terasa.

Keris dapur Bethok Naga (tengah) yang disebut-sebut dibuat pada Abad 12 atau era Kerajaan Singasari. (Sumber: Kompas TV/Kurniawan Eka Mulyana)

“Ini keris yang paling tua yang dipamerkan di sini,” ucap Yogi Yuwono, pria bersurjan yang merupakan Ketua Paguyuban Tosan Aji Klaten (Patosaka), sekaligus panitia pameran, Sabtu (15/1/2022).

Dia menunjuk keris yang berada di dalam kotak kaca di samping pataka, menggunakan jempol tangan kanannya.

Walaupun hanya diihat sekilas, orang bisa menebak usia keris itu cukup tua. Sejumlah lubang menganga menghiasi bilah keris.

Kata Yogi, keris yang ditunjuk tersebut berusia ratusan tahun. Keris dibuat pada Abad 12, atau pada era Kerajaan Singasari.

Dapur atau jenis keris tersebut adalah Bethok Naga.

“Jenisnya keris Dapur Bethok Naga, sedangkan handle atau pegangannya, atau dedernya itu dari gading.”

“Cincinnya dari intan dan perak, perhiasannya intan. Pamornya pedaringan kebak,” ucapnya menjelaskan.

Keris itu merupakan salah satu koleksi pribadi milik Yogi. Dia mengikutsertakan keris tersebut pada pameran dan mematok harga mahar sebesar Rp250 juta.

Pada dasarnya Yogi tidak berniat untuk menjual keris koleksinya, karena dia masih menyukainya.

“Sebetulnya keris ini tidak mau saya jual. Ketika saya jual mahal itu ada beberapa sebab. Pertama, itu artefak,” tuturnya.

Alasan lain dia mematok harga tinggi adalah dia akan kesulitan mencari keris sejenis dengan bentuk dapur yang sama jika keris itu laku.

“Itu merupakan kenang-kenangan dari seorang kawan baik. Jadi, kenapa saya bikin mahal, karena itu memang sebenarnya belum ada niat untuk menjual.”

Ketua Paguyuban Tosan Aji Klaten (Patosaka), Yogi Yuwono, menggenggam sebilah keris di lokasi pameran, Sabtu (15/1/2022) (Sumber: Kompas TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Selama ini harga mahar untuk sebilah keris bisa dikatakan tidak ada standar pasti. Sebab mahar untuk sebilah keris sangat dipengaruhi oleh banyak faktor.

Beberapa faktor itu di antaranya era pembuatan, keutuhan bilah, jenis pamor, kesukaan, dan sejumlah hal lain.

Ajang Pameran dan Belantik

Selain keris berjenis Bethok Naga buatan era Kerajaan Singasari, ada puluhan bilah keris lain yang turut dipamerkan di kegiatan pameran dan belantik atau jual beli tosan aji tersebut. Tepatnya ada 32 bilah. Seluruhnya milik anggota Patosaka.

Pameran dan jual beli keris yang diinisiasi oleh Patosaka ini berlangsung mulai Sabtu (15/1/2022) hingga Minggu (16/1/2022).

“Patosaka itu kepanjangannya Paguyuban Tosan Aji Klaten, sebagai wadah kami, rekan-rekan pecinta keris di Klaten ini untuk berkumpul, membuat paguyuban,” tutur Yogi.

Mengenai jumlah keris atau tosan aji yang diperdagangkan pada ajang ini, Yogi mengaku tidak mengetahui secara pasti.

Namun, yang jelas, menurut Yogi, pihaknya menyiapkan 20 meja yang akan digunakan sebagai tempat tosan aji.

Peserta jual beli yang ia sebut belantik berasal dari sejumlah kota besar di Indonesia, mulai dari Jakarta hingga Surabaya.

“Ada dari Jakarta, Semarang, Pati, Malang, Blitar, Surabaya, Gresik, dan lain-lain. Ini didukung oleh teman-teman dari Solo dan Yogyakarta.”

“Yang diblantikkan jumlahnya kita belum tahu pasti karena masing-masing dengan jumlah yang cukup banyak. Perkiraannya sampai ratusan bilah tosan aji,” tuturnya.

Bukan hanya menjadi ajang pameran dan jual beli. Kegiatan ini sekaligus merupakan upaya untuk melestarikan budaya khas Indonesia, khususnya mengenai senjata tradisional.

Sejumlah keris yang dipamerkan di pameran tosan aji di Omah Patosaka, Klaten, Jawa Tengah. (Sumber: Kompas TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Dengan pameran semacam ini, diharapkan generasi muda dan masyarakat akan lebih tertarik mempelajari filosofi yang terkandung dalam keris maupun adat atau budaya nusantara.

Keris Asli Klaten

Klaten memiliki dua daerah atau lokasi yang menjadi tempat pembuatan pusaka pada zaman Kerajaan Mataram.

Di daerah Koripan (Desa Kranggan, Kecamatan Delanggu) dan Kajoran ( Desa Kajoran, Klaten Selatan).

Baca Juga: Koleksi Ratusan Keris Bernilai Seni Tinggi

“Keris asli Klaten itu berasal dari dua daerah di sini, yang dulu merupakan wilayah zaman Kerajaan Mataram, yaitu wilayah Koripan dan Kajoran,” Sebut Yogi.

Daerah Kajoran  merupakan wilayah Kerajaan Mataran dengan tokoh sentralnya Panembahan Romo, atau yang dikenal dengan Pangeran Kajoran.

Di Kajoran dan Koripan, kata dia, dulunya terdapat besalen atau tempat pembuatan senjata pusaka untuk kerajaan.

Bahkan hingga saat ini di daerah Kajoran masih cukup banyak ditemukan pande atau pembuat senjata.

“Di Koripan hingga saat ini memang masih banyak dijumpai pande, karena memang di sana dulu daerah pembuatan pusaka di era Mataram.”

Keris asli Klaten yang ditampilkan dalam pameran ini berjenis Dapur Sengkelat dengan luk atau lekuk berjumlah 13.

Seperti juga sejumlah senjata tikam berlekuk lainnya, keris ini memiliki filosofi.

“Kalau yang dari Kajoran yang kita tampilkan di sini adalah dapur Sengkelat luk 13 dengan pamor kulit semangka,” ucapnya.

Salah satu keris asli Klaten yang turut dipamerkan dalam pameran tosan aji di Omah Patosaka, Klaten, Jawa Tengah. (Sumber: Kompas TV/Kurniawan Eka Mulyana)

Keris berlekuk 13 tersebut memiliki filosofi yang cukup dalam, yakni tujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam hidup.

“Setiap kita dalam kehidupan sehari-hari pasti menginginkan untuk mencapai las-lasaning urip. Tujuan hidup kita kan mencapai las-lasaning urip, dalam artian kebutuhan tercukupi.”

 

Penulis : Kurniawan Eka Mulyana Editor : Purwanto

Sumber : Kompas TV


TERBARU