Kompas TV olahraga kompas sport

Tak Perlu Karantina, Pembalap dan Kru MotoGP di Mandalika Hanya Jalani Travel Bubble

Kompas.tv - 20 Januari 2022, 21:47 WIB
tak-perlu-karantina-pembalap-dan-kru-motogp-di-mandalika-hanya-jalani-travel-bubble
Lintasan balap di Sirkuit Mandalika, Lombok, NTB. Setelah ajang World Super Bike usai, Sirkuit Mandalika kini tengah bersiap untuk MotoGP 2022 (22/11/2021). (Sumber: Antara )
Penulis : Hedi Basri | Editor : Vyara Lestari

JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, pemerintah akan menggunakan skema travel bubble untuk menyambut perhelatan internasional MotoGP Mandalika.  

Menurut Sandi, travel bubble dinilai sebagai skema yang tepat untuk menjaga efektivitas penanganan pandemi Covid-19 di tanah air.

Ia menambahkan bahwa travel bubble telah disiapkan dengan kehati-hatian bersama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berdasarkan prioritas.

"Ini juga telah ditentuan berdasarkan pertimbangan Kemenkes. Berdasarkan satgas Pengendalian Covid-19," jelas Sandi dalam Program Berita Utama Kompas TV, Kamis (20/1/2022).

Skema tersebut, lanjutnya, bakal diterapkan secara menyeluruh pada periode karantina yang berlaku untuk kru, pembalap, dan ofisial MotoGP.

"Tidak ada perlakuan khusus," terang mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Untuk diketahui, konsep travel bubble adalah protokol kesehatan khusus dimana para pembalap dan kru tidak akan menjalani karantina, namun tidak bisa berinteraksi di luar dari rombongan mereka.

Para pembalap dan kru peserta MotoGP Mandalika 2022 itu hanya akan menunggu hasil tes PCR selama 1x24 jam.

Baca Juga: Komandan Lapangan: Infrastruktur Sirkuit Mandalika 100 Siap Menuju Gelaran MotoGP 2022

Dorna Sports Ancam Batalkan MotoGP jika Harus Karantina

Sebelumnya, ada sedikit ancaman dari Bos Dorna Sports, Carmelo Ezpeleta. Ia mengatakan bahwa pihaknya bisa saja membatalkan balapan MotoGP di suatu negara jika mewajibkan menjalani karantina. 

Indonesia melalui Sirkuit Mandalika akan menjadi tuan rumah ajang balap motor paling bergengsi di dunia, MotoGP 2022.

Sirkuit Mandalika dijadwalkan menjadi tuan rumah tes pramusim pada 11-13 Februari, dan kemudian pada seri balapan kedua MotoGP 18-20 Maret.

Tiket untuk balapan MotoGP tersebut sudah mulai dijual dan mendapatkan antusiasme tinggi dari para penggemar. 

Namun, bisa jadi jadwal balapan MotoGP tersebut buyar, apabila ketentuan karantina bagi WNA yang datang dari luar ke Indonesia dijalankan.

Pembatalan balapan di negara tuan rumah bisa terjadi apabila ada kewajiban karantina dari negara tuan rumah pada MotoGP 2022.

Hal tersebut diungkapkan oleh bos MotoGP, yang juga CEO Dorna Sports, Carmelo Ezpeleta menanggapi drama Novak Djokovic di Australia Open. 

“Jika Anda memberi tahu kami bahwa kami harus menjalani karantina selama 14 hari, maka jawabannya jelas. Dalam hal ini kami tidak akan pergi ke sana,” jelas Carmelo Ezpeleta dikutip dari FPAL.

Baca Juga: Penonton MotoGP Mandalika Jadi 100 Ribu Orang, Epidemiolog: Pertaruhan di Tengah Ancaman Omicron

Ia mencontohkan bahwa tahun lalu, MotoGP Texas bisa berlangsung dengan lancar tanpa harus karantina. tetapi cukup dengan sistem gelembung dan menunjukkan kelengkapan dokumen vaksinasi. 

"Selebihnya, mereka bisa meminta kami untuk membawa sertifikasi vaksinasi atau dokumentasi seperti yang kami lakukan tahun lalu," ujarnya.

“Apa yang kita lihat di Amerika Serikat tahun lalu harus menjadi contoh,” imbuh Ezpeleta. 

Lebih lanjut Ezpeleta berharap, balapan MotoGP musim ini bisa bertambah, namun ia mengatakan tidak menutup kemungkinan untuk membatalkan lomba. 

“Kami menargetkan 19 Grand Prix. Di awal musim, kami mengasumsikan 21 balapan karena kami harus memperhitungkan kontrak. Namun, acara bisa dibatalkan," tegasnya. 

Untungnya, Indonesia sempat mempunyai rekam jejak bagus saat bisa menggelar WSBK 2021 pada November lalu dengan para kru dan pembalap tidak perlu menjalani karantina.

Ezpeleta pun berharap sistem gelembung yang telah diterapkan dalam dua musim terakhir cukup untuk meyakinkan pihak tuan rumah bahwa MotoGP aman untuk digelar.  

"Kami tidak bisa meletakkan tangan kami di dalam api dalam situasi seperti ini," sambung Ezpeleta.

"Tetapi, melihat perkembangan saat ini, skenario paling mungkin terjadi adalah kami melanjutkan sistem gelembung, melakukan PCR, atau menyediakan sertifikat vaksinasi."

Baca Juga: Menparekraf Sandiaga Buka Suara Soal Ancaman Pembantalan MotoGP karena Kebijakan Karantina

 




Sumber : Kompas TV


BERITA LAINNYA



Close Ads x