> >

18 WNI Dilaporkan Meninggal di Tahanan Imigrasi Malaysia, Kedubes Malaysia: Semuanya karena Penyakit

Kompas dunia | 27 Juni 2022, 11:42 WIB
Ilustrasi. Pengunjuk rasa yang tergabung di Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB) saat melakukan aksi di Gedung Kedutaan Besar Malaysia, Jakarta, Jumat (24/6/2022) (Sumber: GALIH PRADIPTA/ANTARA FOTO)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Sebanyak 18 WNI dilaporkan meninggal dunia di Depot Tahanan Imigrasi Tawau, Sabah, Malaysia, sejak Januari 2021 hingga Maret 2022.

Laporan tersebut dikeluarkan oleh Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB).

Laporan itu mengungkapkan salah satu penyebab kematian adalah diduga terjadinya penganiayaan sebelum meninggal.

Laporan tersebut menyebutklan KBMB menemukan ada beberapa kasus dugaan bentuk hukuman tak manusiawi dan penyiksaan yang dialami deportan WNI di tahanan imigrasi Tawau.

Baca Juga: Kata WNI di Munich saat Bertemu Jokowi dan Iriana: Humble Banget

Namun, Kedutaan Besar Malaysia di Jakarta mengungkapkan kematian yang terjadi di depot tahanan imigrasi kebanyakan disebabkan karena penyakit.

Dalam laporan berjudul Seperti di Neraka: Kondisi Pusat Tahanan Imigrasi di Sabah, Malaysia, tim pencari fakta (TPF) KBMB mewawancarai beberapa deportan asal Indonesia.

Upaya ini dilakukan untuk mengetahui apa yang terjadi pada Suardi, salah seorang WNI yang diduga meninggal akibat dianiaya di tahanan Imigrasi Malaysia di Tawau.

Salah satu yang diwawancarai adalah saudara kandung Suardi, yang berada di satu blok tahanan yang sama.

Para saksi mengatakan Suardi dipukul ramai-ramai oleh petugas Depot Tahanan Imigresen (DTI), di hadapan tahanan lainnya.

Suardi, dengan kondisi tubuhnya yang terluka, kemudian dimasukkan ke dalam sel isolasi, dengan tangan diborgol.

Ia kemudian dinyatakan meninggal dunia pada awal Januari 2021.

Baca Juga: Zelensky Ungkap Warga Rusia Ikut Terluka Karena Serangan Rudal Putin ke Kiev

Berdasarkan hasil penyelidikan, KBMB menyimpulkan ada dugaan bentuk hukum tak manusiawi, hingga dugaan penyiksaan di sana.

“Berbagai bentuk penghukuman dan perlakuan tidak manusiawi, bahkan penyiksaan terjadi di pusat tahanan imigrasi yang merupakan suatu institusi yang tertutup, institusi yang terisolasi,” ujar anggota TPF KBMB, Abu Mufakhir kepada BBC, Minggu (26/6/2022).

“Jarang sekali orang bisa mengakses realitas yang terjadi di dalam, sehingga mereka secara tidak langsung dilindungi oleh ketertutupan itu, tidak banyak orang yang tahu,” ujarnya.

Kedubes Malayasia di Jakarta, dalam keterangan tertulisnya terkait masalah itu mengatakan total ada 149 tahanan asal Indonesia yang meninggal di Depot Tahanan Imigrasi di seluruh Sabah.

Semuanya disebabkan oleh penyakit, mulai dari Covid-19, sampai penyakit serius seperti kegagalan fungsi organ dan serangan jantung.

Pernyataan Kedubes Malaysia itu membuat KBMB terkejut, karena jumlah kematian WNI di DTI lebih tinggi dari yang mereka duga.

Sementara itu, Konsul RI di Tawau, Heni Hamidah mengatakan pada Senin (27/6/2022), pihaknya akan mencocokan data dengan DTI, terkait dugaan penganiayaan Suardi sebelum meninggal.

Baca Juga: KTT G7 di Jerman: Forum Negara Maju, Mengapa Indonesia Diundang?

Menurutnya, berdasarkan laporan yang ia dapat tahun lalu, penyebab kematian Suardi adalah serangan jantung.

“Kita akan telusuri lebih lanjut. Saya enggak tahu sebetulnya pihak KBMB ini infonya dari mana, kalau berdasarkan file tertulis di kita, almarhum meninggalnya karena heart attack,” tutur Heni.

“Ini mau kita cek juga dengan depot,” tambah Heni.

Heni juga mengatakan akan melakukan verifikasi lagi ke pihak DTI terkait jumlah kematian yang sebenarnya.

Penulis : Haryo Jati Editor : Desy-Afrianti

Sumber : BBC


TERBARU