> >

Ngobrol dengan Komaruddin Hidayat

Opini | 30 Juli 2022, 04:05 WIB
Tiga guru bangsa. (Sumber: IBTimes.ID via triaskredensialnews.com)

* oleh Trias Kuncahyono, Penulis adalah Wartawan Senior Harian Kompas

TANPA sengaja, saya bertemu Komaruddin Hidayat. Saya biasa menyapanya dengan sebutan, Prof. Karena memang Komaruddin yang pernah menjadi rektor UIN Syarif Hidayatullah untuk masa jabatan dua periode, 2006-2010 dan 2010-2015; serta sekarang rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, adalah seorang profesor.

Kami bertemu di Madania School, di Kemang, Bogor, suatu hari. Komaruddin adalah salah satu pendiri Madania School bersama dengan Nurcholish Madjid (Cak Nur, 1939-2005) dan Ahmad Fuadi (1934-2013).

Ini pertemuan dua sahabat lama. Hangat. Penuh gairah. Penuh nostalgia. Kami ngobrol sambil berjalan menyusuri gang-gang di kompleks Madania yang luas dan sejuk; melihat sejumlah siswa main futsal. 
Sambil jalan,  mengenang kembali pengalaman kami ketika sama-sama mengikuti Interfaith Dialogue di Rusia, Serbia, dan Yunani (2011).

Lalu, kata Komaruddin, “Yuk, kita ngobrol di perpustakaan saja.” Yah, perpustakaan, tempat ngobrol yang nyaman. 
Ada yang berpendapat perpustakaan lebih dari fasilitas atau program lain di sekolah, perpustakaan berfungsi sebagai tempat untuk memperluas pendidikan siswa di luar kurikulum yang dipersyaratkan.

Bahkan, kata orang pandai, agar bangsa kita tetap ‘kaya’, sangat penting bagi warga negara, juga pelajar, memiliki akses informasi yang tidak terbatas, termasuk lewat buku-buku di perpustakaan.

“Bukumu yang paling laku, yang mana. Oh, iya kredensialmu di Youtube sudah banyak iklannya?” tanya Komaruddin begitu kami duduk di kursi perpustakaan.

“Buku Jerusalem yang dulu dibedah Gus Dur saat peluncuran yang paling laku. Lalu juga buku Turki, Revolusi Tak Pernah Henti Lainnya, seperti Pilgrim dan Tahrir Square, lumayan juga,” jawab saya.

***

Quot Abdurrahman Wahid (Sumber: Istimewa via triaskredensialnews.com)

Di perpusatakaan, kami ngobrol banyak hal. Antara lain soal dunia pendidikan, rencana penulisan buku (kami pernah merencanakan menulis buku berdua, tetapi pandemi Covid-19, menjadi halangan untuk mewujudkan rencana itu), politik mutakhir, tokoh-tokoh besar di negeri ini, seperti Cak Nur, Gus Dur, dan Buya Syafii.

Tentang Cak Nur, Komaruddin pernah nulis demikian (Kompas, 22 Desember 2010) “Sosok dan pemikiran Nurcholish Madjid (1939-2005) sulit dihapus dari ingatan intelektual Islam Indonesia kontemporer. 
Bersama Abdurrahman Wahid, keduanya meletakkan fondasi pemikiran keagamaan dan ke-Indonesia-an yang inklusif dan visioner. Mereka mempertegas integrasi Islam, demokrasi, dan negara kebangsaan baik dalam tataran epistemologis maupun dalam praksis-politik.”

Bagi Cak Nur, tidak ada pertentangan antara keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Tiga hal itu dikembangkan secara simultan, dengan rajutan yang akan menghasilkan masa depan Indonesia yang lebih baik, lebih demokratis, lebih adil, dan lebih terbuka.

Ketika kami bicara toleransi, nama Gus Dur segera muncul. Bapak Toleransi, Pluralisme, Demokrasi, dan Perdamaian ini memiliki pandangan yang khas tentang toleransi.

Gus Dur meletakkan toleransi dalam bertindak dan berpikir. Kata Gus Dur, sikap toleransi tidak tergantung, tidak berkaitan pada tingkat pendidikan maupun kekayaan. Sebab, toleransi adalah masalah hati  dan perilaku.

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : Kompas TV


TERBARU