> >

Ngobrol dengan Komaruddin Hidayat

Opini | 30 Juli 2022, 04:05 WIB
Tiga guru bangsa. (Sumber: IBTimes.ID via triaskredensialnews.com)

Toleransi bukan soal epistimologi, karena itu tidak  butuh difinisi. Tetapi, aksiologi dari konsep-konsep yang bersifat normatif. Maka, Gus Dur terus dan terus memraktikannya. Persahabatan sejatinya dengan Romo Mangun dan Ibu  Gedong Bagus Oka, misalnya, salah satu contohnya kecilnya.

Yang sangat menarik adalah soal kebudayaan Tionghoa. Gus Dur  mengakui kebudayaan Tionghoa  sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Maka, tak ada lagi dikotomi di kalangan masyarakat Tionghoa di Indonesia mengenai pilihan antara mengambil pendekatan asimilasi atau integrasi seperti pada era sebelumnya.

Berbagai aksara China, yang sebelumnya ditabukan, dilarang dituliskan, digunakan,  dibebaskan. 
Pertunjukan barongsai yang menarik, indah itu dan dulu dilarang, oleh Gus Dur diperbolehkan dipentaskan. Maka, kelompok kesenian ini pun tumbuh bak jamur di musim hujan.

Tokoh lain yang kami bicarakan adalah Buya Syafii Maarif. Kata Komaruddin, Buya Syafii adalah sosok pengingat, seorang muazin yang sederhana. 
Seorang pengingat yang berseru mengingatkan dan mengajak penguasa untuk peduli akan situasi dan kondisi bangsa dan global.

Buya adalah sosok yang selalu memerhatikan kondisi sosial bangsa dan dunia. Ia selalu berpikir keras akan bangsa serta tak segan untuk mengingatkan dan mengajak para penguasa untuk terus memperbaiki permasalahan bangsa. 
Sikap seperti itu, dipertahankan sampai di titik akhir hidupnya dengan sepenuh hati dan pikiran.

Kata Komaruddin, Buya seorang muslim yang inklusif, plural, dan bermoral. Salah satu pendapat Buya adalah sikap fundamental tak akan mampu mempertahankan bangsa Indonesia seutuhnya dalam mengayomi setiap elemen suku, etnis, dan agama. 
Maka, Buya selalu mengatakan, sing waras aja  ngalah menghadapi ketidak-warasan dalam sikap, omongan, dan tindakan.

Kata Komaruddin, dengan menjadi seorang muslim yang inklusif dibarengi dengan intelektual, maka tak heran jika pemikiran Buya Syafii melintasi batas teritorial. Hal itu  menjadikan Buya sebagai sosok intelektual muslim yang melintasi batas agama dan teritorial.

Sikap pluralnya bahkan diserukan dengan lantang dengan menyebut bahwa setiap manusia, baik itu muslim, nonmuslim, bahkan atheis sekalipun, diberikan kebebasan untuk hidup di muka bumi ini oleh Tuhan.
Asalkan, kebebasan tersebut harus dibarengi dengan sikap menghormati akan rambu-rambu suatu agama dan budaya tertentu di suatu tempat yang ditinggali.

***

Ngobrol dengan Komaruddin Hidayat (kanan) (Sumber: triaskredensialnews.com)

Tidak lama kami ngobrol. Karena Prof Komaruddin sudah dijemput putri dan cucunya. “Kita lanjutkan lain kali ya, ngobrolnya, sambil ngrencanakan bukunya itu,” katanya sebelum meninggalkan perpustakaan.

Sambil jalan, ia masih mengatakan, “Mereka itu–juga sejumlah tokoh lainnya penganjur, pembela, dan pelaksana toleransi, pluralisme, demokrasi, dan perdamaian–sudah layak dan sepantasnya kita teladani, ikuti, kita puji dengan setulus hati.”

“Tetapi,” lanjutnya,  “puja-puji saja terhadap mereka–meskipun memang sudah pantas dan selayaknya–tidak cukup.
Yang dibutuhkan sekarang adalah melanjutkan dan mewujud-nyatakan gagasan-gagasan besar tiga guru bangsa itu. Misalnya, soal pluralisme, toleransi, inklusivitas beragama.”

Bukankah, toleransi misalnya, bukan sekadar saling menghormati, tenggang rasa, tetapi harus diwujudkan pengembangan rasa saling pengertian yang tulus dan diteruskan saling memiliki dalam kehidupan menjadi ukhuwah basyariyah, persaudaraan kemanusiaan.

Persaudaraan kemanusiaan itu artinya  di mana seseorang merasa saling bersaudara satu sama lain karena merupakan bagian dari umat manusia yang satu di pelbagai penjuru dunia;  sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan.

Maka sikap-sikap seperti diskriminatif, tidak toleran, inklusif dalam hidup beragama, kebenciaan, penuh kecurigaan pada orang lain yang tak seagama dan tak sepaham,  bertentangan dengan hakikat dasar manusia tersebut. “Wis, ya ...kita ketemu lagi.” ***

Penulis : Redaksi-Kompas-TV

Sumber : Kompas TV


TERBARU