> >

Sejarah dan Arti 1312 ACAB, Tertulis di Kanjuruhan Usai Tragedi, Apa Kaitannya dengan Polisi?

Sosial | 5 Oktober 2022, 06:40 WIB
Ilustrasi. Grafiti bertuliskan No Justice No Peace atau Tidak Ada Perdamaian tanpa Keadilan serta A.C.A.B yang dituliskan di luar Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Selasa (4/10/2022). ACAB atau 1312 adalah slogan politis yang mengglobal, apa artinya dan bagaimana sejarahnya? (Sumber: Achmad Ibrahim/Associated Press)

YOGYAKARTA, KOMPAS.TV - Grafiti dan poster bernada prihatin sekaligus marah terlihat di Stadion Kanjuruhan usai peristiwa tragis pada Sabtu (1/10/2022) lalu. Salah satu grafiti yang terlihat bertuliskan “1312” atau “ACAB”, apa artinya?

Sebelum Tragedi Kanjuruhan, kode 1312 atau ACAB pun sudah kerap diterakan di ruang-ruang publik. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai penjuru dunia lain.

ACAB sendiri adalah slogan politik yang mengglobal. Singkatan dari “all cops are bastards” atau jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia berbunyi “semua polisi adalah bajingan.”

Sementara itu, kode 1312 adalah slogan ACAB yang dibaca secara numerik. Cara membacanya adalah menilik deretan alfabet, yakni 1=A, 3=C, 1=A, 2=B. Jadi 1312 sama saja dengan ACAB.

Baca Juga: Imbas Tragedi Kanjuruhan, New York Times Sorot Polisi Indonesia: Kurang Terlatih, Seolah Kebal Hukum

Lalu, bagaimana slogan itu bisa tercipta sehingga mendunia, kerap disuarakan ketika insiden-insiden yang terkait dugaan kebrutalan polisi terjadi?

Sejarah ACAB: berawal di Inggris, bersemai di seluruh dunia

Menurut artikel Colin Groundwater untuk GQ, Juni 2020 silam, riwayat munculnya slogan ACAB pertama kali tidak bisa dilacak secara pasti. Namun, konsensus yang ada menyebut slogan ini pertama muncul di Inggris pada paruh pertama abad 20.

Colin menulis, frasa “all copers are bastards” pertama disingkat menjadi ACAB oleh pekerja-pekerja Inggris yang melakukan aksi mogok pada 1940-an.

Akan tetapi, ACAB disebut baru mendapatkan pengertiannya seperti saat ini usai tabloid Inggris, Daily Mirror, menjadikannya tajuk utama. Berita dari tajuk utama itu adalah seorang remaja yang membordir frasa “ACAB” di jaketnya, mengira itu adalah singkatan dari “all Canadians are bums” atau “semua orang Kanada adalah gelandangan.”

Remaja itu mengaku membordir frasa “ACAB” usai melihatnya dalam atribut anggota geng motor Hells Angel yang dilihatnya di jalan.

Remaja itu kemudian didenda sebanyak lima paun. Namun, di luar kejadian ini, ACAB semakin tergaung dan digunakan kaum muda yang muak dengan polisi.

ACAB pun semakin mendapatkan popularitas berkat subkultur punk. Gerakan punk disebut berjasa menyebarkan slogan ini ke seluruh dunia, dari Inggris, Amerika, hingga Indonesia.

Baca Juga: Korban Tragedi Kanjuruhan Jadi 131 Orang, Gubernur Jawa Timur : Semua Berhasil Diidentifikasi

Selain lekat dengan anak punk, anarko dan gerakan-gerakan anti-otoritarian kerap menggunakan slogan tersebut.

Sejumlah kejadian belakangan ini pun turut menjadi panggung tempat slogan ACAB bergema nyaring. Di Amerika, pada 2020 lalu, pembunuhan George Floyd yang dibunuh polisi membuat ACAB ramai digaungkan demonstran di Amerika.

Di Indonesia, usai Tragedi Kanjuruhan, ACAB juga disuarakan. Tidak hanya terpampang di ruang-ruang publik, tetapi juga di media sosial.

Peran kepolisian dalam Tragedi Kanjuruhan sendiri disorot berbagai pihak. Pasalnya, polisi menembakkan gas air mata ke arah tribun. Setelah tembakan gas air mata, kekacauan besar timbul, merenggut 131 jiwa.

Baca Juga: Gas Air Mata Picu Ratusan Kematian di Lima 1964 dan Accra 2001, Polisi di Kanjuruhan Mengulanginya

Penulis : Ikhsan Abdul Hakim Editor : Hariyanto-Kurniawan

Sumber : Kompas TV


TERBARU