Dari yang saya temui selama ini, menegaskan bahwa seni selalu menjadi bagian integral dari agama. Tengoklah basilika-basilika, katedral-katedral, dan gereja-gereja di Roma, di kota-kota lain di Italia, juga di negara-negara lain di Eropa: Spanyol, Portugal, Perancis, juga Rusia. Di sana akan kita temui perpaduan sejarah, seni, dan spiritualitas itu.
Gambar-gambar suci, simbol-simbol suci, tarian suci, nyanyian, himne dan nada telah digunakan dalam ritual, di tempat ibadah. Semua itu sebagai bantuan untuk berdoa dan meditasi di setiap agama. Sikap hormat di hadapan patung atau gambar para kudus atau simbol-simbol suci lainnya bukan merupakan penyembahan berhala. Sebab yang dihormati bukan patung itu sendiri melainkan pribadi yang dilambangkannya.
Sejak abad awal gereja jemaat purba, katakomba dihiasi dengan gambar- gambar rohani, yang terlihat pada dinding- dindingnya. “Siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea).
Kata teolog Francis August Schaeffer (1912 – 1984) dalam bukunya Art and the Bible, “Seni adalah cerminan kreativitas Tuhan, sebuah bukti bahwa kita diciptakan menurut citra Tuhan.” Hal ini, mungkin, mewakili keindahan seni yang sebenarnya: pada intinya, seni mencerminkan esensi keselarasan dengan Pencipta kita.
Maka, tujuannya tidak terkandung dalam patung, lukisan, puisi, nyanyian, atau tulisan, melainkan mengingatkan hati manusia yang lemah untuk melampaui ikatan duniawi. Karya seniman Renaisans Michelangelo, misalnya, (demikian pula Bernini) mencerminkan pendekatan ini. Ini bisa dilihat dalam karya Michelangelo di Kapel Sistina dan Basilika St. Petrus; demikian pula karya Bernini di Basilika St. Petrus dan Santa Maria Maggiore.
Bersama ayahnya, Pietro Bernini, Bernini membuat relief Assumption in the Baptistry, patung di Kapel Pauline, dan patung perunggu yang menggambarkan Philip IV, di bawah serambi (dirancang oleh Gian Lorenzo). Semua itu mencerminkan aktivitas artistik keluarga Bernini di Basilika Santa Maria Maggiore.
Karyanya terus bisa dinikmati banyak orang dari masa ke masa. Abadi. Tidak digulung zaman. Hal ini membenarkan pendapat, “Seorang Kristen harus menggunakan seni ini untuk kemuliaan Tuhan, bukan hanya sebagai risalah, tetapi sebagai hal-hal indah yang memuji Tuhan. Sebuah karya seni bisa menjadi sebuah doksologi tersendiri.”
Demikian pula musik. Kata komponis besar Ludwig van Beethoven (1770 – 1827), “Musik adalah mediator antara kehidupan spiritual dan sensual.” Musik, pada hakikatnya, adalah suara roh. Ketika diciptakan dari hati dan dengan kebenaran serta niat murni, musik adalah ekspresi spiritual yang bersifat paling universal dan tingkat tertinggi.
Tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa seni kiranya merupakan wahana alami untuk mengekspresikan atau menghubungkan dengan yang transenden. Seni besar Kristen abad pertengahan di Barat adalah seni keagamaan, sama seperti seni Kristen Ortodoks di timur. Bagi agama Hindu dan Budha sama saja. Bahkan agama seperti Yudaisme dan Islam, menggunakan desain dekoratif untuk memperindah tempat ibadah dan teks suci.
Di luar konteks agama formal, agama secara tradisional telah menjadi bagian integral dari seni dan juga budaya lainnya. Seni dalam budaya tradisional menyampaikan keyakinan dan nilai utama dari budaya tersebut, dan keyakinan serta nilai tersebut memiliki dimensi keagamaan atau spiritual yang kuat.
***
Makam Bernini sudah kami tinggalkan. Sederhana. Begitu kesan yang membekas dalam ingatan. Tidak mudah menjadi sederhana. Apalagi dia seniman kondang, bahkan sangat kondang, dan memiliki hubungan dekat dengan paus, yang di zaman itu masih demikian powerful. Kekuasaannya dalam masalah dunia lebih karena otoritas moral atau spiritualnya, bukan karena kekuatan militer. Pengaruh paus pada masa itu lewat Negara Kepausan, dirasakan di mana-mana.
Tapi, Bernini tidak mau memanfaatkan posisinya untuk keuntungan dan kemegahan diri. Semakin seseorang sederhana, dan dengan penuh kesadaran berani tampil apa adanya, maka orang itu akan semakin mudah menjumpai sesamanya: yang miskin, yang kecil, yang disingkirkan, yang tidak didengar suaranya, yang tidak dilihat, yang menderita, dan yang terbuang.
Kami lalu menziarahi seluruh bagian Basilika Santa Maria Maggiore dengan sepenuh hati. Apa yang kami saksikan dan nikmati di basilika akan saya ceritakan di lain waktu.
Basilika Santa Maria Maria Maggiore …..Nantinya, basilika terbesar yang dipersembahkan pada Bunda Maria ini, akan semakin menjadi tujuan ziarah umat beriman…
***
Sumber :
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.