Oleh: Nugroho Iman, Jurnalis Kompas TV, Akademisi Alumni Kriminologi
Baca Juga: Ke Mana Kita? #kaburajadulu
Sore itu saya sedang menikmati secangkir kopi susu dan singkong goreng di warkop langganan. Saya iseng membuka media sosial.
Tiba-tiba muncul tagar baru #kamibersamasukatani bersamaan dengan tagar populer lainnya seperti #Indonesiagelap yang juga sedang trending.
Karena tagar itu saya lantas mencari tahu, siapa sih Sukatani ini? Kenapa tagar #kamibersamasukatani teramplifikasi?
Saya segera browsing. Di instagram muncul video grup band sukatani.
Isi video itu berupa permintaan maaf yang diunggah akun resmi milik Sukatani, yakni @sukatani.band. Postingan di akun itu saat saya lihat sudah mencapai 111 ribu komentar dan 550 ribu likes.
Boleh jadi saat ini sudah lebih dari jumlah tersebut.
Baca Juga: Kasus Band Punk Sukatani: Kritik atau Intimidasi? Ini Kata Amnesty International Indonesia
Ternyata viralnya video itu bermula dari band Sukatani yang meminta maaf secara terbuka kepada Kapolri dan Institusi Polri atas lirik lagu mereka yang berjudul “Bayar Bayar Bayar”.
Dua personel band Sukatani yang merekam video permintaan maaf kepada Kapolri dan Institusi kepolisian di depan kamera.
Mereka juga meminta semua pihak tidak lagi menggunakan lagu “Bayar Bayar Bayar” dalam semua kegiatan.
Tak berselang lama, lagu itu mendadak hilang dari semua platform musik digital, seperti spotify dan Youtube music. Padahal lagu ini sudah ada di platform digital musik dan sudah dirilis sejak 2023 silam.
Sukatani adalah duo band indie. Di sejumlah media disebutkan duo personel Sukatani berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah.
Mereka adalah Muhammad Syifa Al Ufti alias Alectroguy dan Novi Chitra Indriyaki alias Twister Angel.
Ciri khas mereka mengenakan topeng atau penutup wajah dan kostum unik dalam aksi panggungnya. Terkadang mereka juga membagikan hasil bumi seperti ikatan sayur kepada penonton.
Band Sukatani mengusung aliran new Wave Punk yang terinspirasi dari band punk era 80-an Anarchi-punk.
Lirik-lirik lagu Sukatani bercerita tentang protes dan kritik terhadap berbagai macam situasi yang mereka anggap tidak semestinya terjadi. Termasuk ungkapan keresahan diri mereka seperti kehidupan sosial.
Sebagai contoh lainnya, misalnya dalam lirik lagu “Gelap Gempita” yang sekaligus juga judul album Sukatani.
Berikut petikannya:
Di dalam otak mereka hanyalah kekuasaan
Di dalam hati mereka tak ada kepuasan
Di dalam cara mereka terpampang kedzaliman
Di dalam harap mereka cahaya kemenangan
Tak lama setelah permintaan maaf tersebut, bertebaran meme duo Alectroguy dan TwisterAngel yang dibuat netizen.
Isinya sebagian besar adalah kritik terhadap polisi yang diduga mengintimidasi mereka untuk meminta maaf.
Atas hal itu Polri sudah membantahnya dan menyatakan tidak melakukan intimidasi terhadap Sukatani.
Kapolri menyatakan, Polri tidak antikritik dan terbuka menerima berbagai masukan sebagai upaya memperbaiki diri.
Bahkan, Bidang Propam Polri juga bergerak cepat dan serius memeriksa personel Polda Jateng yang menemui band Sukatani.
Baca Juga: Aksi Solidaritas untuk Band Sukatani
Antara Nyaman, Percaya dan Citra
Dari apa yang terjadi dengan band Sukatani dan komentar warganet di dalamnya mencerminkan adanya dinamika di masyarakat terhadap polisi.
Lebih tepatnya, dinamika masyarakat terhadap beberapa oknum di dalam tubuh institusi kepolisian.
Pada survei Litbang Kompas 2024, citra kepolisian sangat tinggi nilainya. Sebanyak 73,1% responden yang disurvei memberikan penilaian positif terhadap citra polisi.
Tetapi hasil survei periodik yang dilakukan Litbang Kompas di awal 2025 menunjukkan berbeda. Responden menilai citra positif kepolisian menyentuh angka 65,7%.
Sehingga citra positif kepolisian berdasarkan dua survei periodik tersebut turun lebih dari 7%.
Penurunan ini signifikan jika dilihat dari data tersebut. Dinamika komentar masyarakat di media sosial dalam isu Sukatani seolah mencerminkan angka-angka tersebut.
Komentar-komentar warganet meriuhkan jagat media sosial. Riuh percakapan mulai dari menceritakan pengalaman, beropini, mengkritisi hingga memaki.
Hal ini terlihat dalam percakapan antarwarganet di berbagai aplikasi media sosial dalam isu Sukatani.
Sebagian netizen atau warganet berasumsi ada ketidakadilan yang mereka rasakan berkaitan dengan persoalan sehari-hari. Misalnya soal ketertiban umum, masalah hukum dan rasa aman.
Jika berkaitan dengan kasus hukum yang viral, tagar seperti #noviralnojustice atau #percumalaporpolisi masih sering ditemui.
Sumber : Kompas TV
Gabung ke Channel WhatsApp KompasTV untuk update berita terbaru dan terpercaya.